Belitong, Surga yang Tersembunyi (Bangka Belitung Part 2)

Rasanya sudah beberapa bulan tidak ngeblog tentang keindahan nusantara, karena kesibukan ngebolang ke negeri sebelah (uhuukk…). Bukan begitu, namun karena memang akhir-akhir ini terlalu sibuk sehingga baru sempat meluangkan waktu untuk ngeblog. Namanya juga kerjaan, kalau ga sempet jalan-jalan ya yang penting kerjaan selesai maksimal baru bersantai kemudian.

Yup, siapa sangka Indonesia punya banyak pesona tersembunyi. Ternyata keindahan pantai Belitong seperti yang tergambar pada film Laskar Pelangi nyata adanya. Pantai pasir putih dan sekelompok bebatuan raksasa di tengah perairan menciptakan keindahan tersendiri.

Dan perjalanan pun dimulai dari sini, dermaga Belitong begitu kami menyebutnya… Biasanya dermaga ini menjadi titik akhir festival tahunan Sail Morotai. Wew..dari ujung Maluku Utara sampai Bangka Belitung bok…

Dermaga Belitong

Bagi pecinta pasir putih, Pulau Pasir Putih ini sangat cocok untuk disambangi. Pulau ini hanyalah daratan yang muncul saat air laut surut dan mungkin tenggelam saat pasang. Lihat saja gambar pulau seperti gambar di bawah, hanya dengan 1 menit berlari saja sudah bisa mengelilingi pulau. Namun, siapa sangka pulau mini ini sangat mahsyur di kalangan traveler Indonesia. Hihihi…

20160721_091548

Pulau Pasir Putih

Pulau Pasir Putih memang cocok untuk spot pengambilan foto. Sayang sungguh sayang, selama trip Belitong ini cuaca cukup mendung sehingga awan pun tak terlihat suram. Namun demikian, mudah-mudahan artikel ini dapat memberikan referensi bagi pecinta travel nusantara.

IMG_0245

Pulau Lengkuas

Pulau Lengkuas memang terkenal menjadi tujuan wisata Belitong. Pulau yang identik dengan bangunan mercusuar putih ini memiliki pesona tersendiri. Bagi pecinta pemandangan bawah laut, sekitaran pulau ini merupakan spot snorkeling yang pas.

IMG_0261

Meskipun kondisi hujan gerimis, teman saya ini tak patah arang tetap terjun snorkeling di sekitaran Pulau Lengkuas. Nampak asik sekali sehingga lupa waktu dan tak menyadari bahwa kami yang sudah lebih dari satu jam menunggu di atas kapal mulai jenuh ingin mencoba spot menarik lainnya, haha…

IMG_3572

Menepi di Pulau Lengkuas, kami langsung mengarah ke sisi kanan pulau yang isinya batu-batu raksasa. Lompat sana lompat sini, menguji adrenalin bak pendaki bukit batu. Yang paling penting berhati-hati. Spot ini sangat cocok untuk para pendaki dan pecinta alam.

20160721_114656

Yup siapa mau mencoba naik mercusuar yang kokoh berdiri sejak masa penjajahan kolonial Belanda tahun 1882. Persiapkan fisik ya karena mercusuar ini terdiri dari 19 lantai. Jika sudah sampai di ujung atas, hamparan pemandangan pantai Belitung mudah-mudahan dapat menghilangkan letih.

20160721_120612

Tak jauh dari mercusuar, terdapat tempat penangkaran penyu. Bagi yang mau mengeksplorasi tentang perkembangbiakan satwa tersebut silakan mampir ya…

IMG_0291

Short trip selanjutnya, tak jauh dari Pulau Lengkuas terdapat sebuah pulau dengan hutan kecil dan Gua Batu di dalamnya. Let’s explore the cave…!

Goa Kelayang

Selesai mengeksplorasi gua dengan batu tiga warna, saatnya bersantai pada hamparan batu raksasa. Tempat dimana kita dapat melihat Pulau Burung dari jarak yang lumayan dekat.

IMG_0332

Pulau Burung

IMG_0355

Berburu Kuliner Bangka (Bangka Belitung Part 1)

Berbicara soal kuliner, jujur saya sempat icip-icip saat masih di Pulau Bangka. Aneka pempek, tekwan, otak-otak dan bumbu-bumbuan yang ada di sana.

20160718_122105

Entah pempek apa saja namanya, yang saya kenal cuma pempek adaan, kapal selam, lenjer dan kulit.

20160718_123831

Nah ini kuahnya dari ujung kiri ke kanan: kuah cuko pempek, kuah jeruk, kuah terasi dan  kuah tauco. Entah itu buat jenis makanan apa saja tapi ya sudah campur-campurin aja selama cocok di lidah. Hehehe…

20160718_122515

Ini tekwan campur jamur. Sama seperti pempek, tekwan cukup terkenal di kalangan pecinta makanan kuliner.

20160718_122100

Otak-otak yang ini rasanya nagih…

20160720_104617

Ini makanan khas Bangka asli, namanya mie Koba. Perpaduan rasa antara soto dan mie ayam menjadi satu. Mie Koba menggunakan kuah ikan, untuk menikmati kuliner ini bisa dengan sedikit campuran perasan jeruk kunci (sebutan untuk varian jeruk limo di Bangka) atau langsung disantap begitu saja. Mie Koba juga dapat dihidangkan tanpa kuah lho. Oiya, biasanya mie Koba disajikan bersama dengan telur asin.

20160719_195604

Nah ini adalah Lempah Kuning, merupakan sop ikan (ikan pari, tenggiri atau sesuai selera) dengan kuah kuning. Rasa asam kuah Lempah Kuning bisa dari kuah asam jawa muda atau kuah nanas. Belum ke Bangka Belitung namanya kalau belum mencoba menu yang satu ini.

Es jeruk persik belitung

Karena di Bangka Belitung ini sudah banyak pendatang atau warga keturunan Tionghoa, tak jarang kulturisasi pun berpengaruh ke sisi kuliner. Mau mencoba minuman yang lain, ini ada es jeruk kunci dengan manisan persik.

Puas dengan kuliner khas Bangka, mari beralih ke Pulau Belitung (read: Belitong) yang tak kalah cantik dan menarik. Bye Bangka Island….

20160720_124354

 

Seoul City Trip

Keinginan untuk melihat salju membawa saya pergi ke negeri Joseon ini pada Januari 2016. Awalnya sih berencana ke Jepang, namun karena saya sedang kecanduan film drama korea maka banting setirlah ke negeri ini.

Mengurus visa Korea Selatan menurut saya tidak sesulit yang diceritakan, asalkan berkas yang kita ajukan lengkap. Lokasi kantor perwakilan Korea Selatan berada tak jauh dari halte TransJakarta Tegal Parang. Biaya apply visa Korsel waktu itu Rp 560.000,- per orang. Visa selesai sekitar 10 hari kerja.

Hoanyonghamnida, selamat datang di Seoul…Bagi penggemar drama korea pasti tak asing lagi dengan terminal kedatangan ini karena hampir semua film ada casting di area ini.

DSC_0152

Perjalanan saya kali ini ditemani oleh suami dan seorang rekan. Sampai di terminal kedatangan kami berjalan ke arah kiri mencari minimarket yang menjual T-Money, biasanya di GS25 atau 7-11. T-Money berfungsi sebagai kartu pembayaran transportasi di Korea Selatan, kartu ini akan di-tap pada gate stasiun atau pada pintu keluar-masuk bus. Harga kartu itu sendiri seharga KRW 4000, sedangkan nominal isi ulangnya kita yang tentukan sendiri. Isi ulang kartu dapat dilakukan di mini market atau di mesin isi ulang T-Money (1 KRW (Korea Won) = Rp 11,-). Ini dia wujud T-Money yang saya beli waktu itu, pengguna aplikasi Line sudah tentu familiar dengan penampakan beruang imut ini.

DSC_0155

Dari bandara menuju Seoul Station kita dapat memilih kereta cepat AREX Express atau AREX all stop train. Harga tiket AREX express KRW 8.000, sedangkan AREX all stop train seharga KRW 4.250. Kemudian dari Seoul station menuju kota lain, atau untuk mobilitas di dalam kota Seoul, kita dapat menggunakan kereta subway. Subway di Seoul memiliki banyak jalur yang disimbolkan dengan kode warna, supaya tidak bingung sebaiknya traveller menginstal aplikasi Subway Korea atau disarankan untuk selalu membawa subway map.  Untuk mengetahui info transportasi korea selatan, kunjungi web http://english.visitkorea.or.kr/.

DSC_0255

Saat itu, dari Seoul station saya dan suami mengambil jalur ke arah Myeongdong. Kebetulan penginapan kami ada di distrik tersebut. Turun dari subway yang berada di stasiun bawah tanah kami berjalan menuju pintu keluar. Begitu sinar matahari dan langit terlihat, brrrr…hawa dingin menerpa. Menurut accuweather, suhu saat itu mencapai -3°C. Memang kami sudah mempersiapkan dari awal perlengkapan musim dingin seperti longjohn, pakaian-pakaian tebal, jaket tebal, syal, tutup telinga dan sarung tangan.

Menurut saya, syal, tutup telinga dan sarung tangan ini memang terlihat hanya seperti asesoris sepele, namun ternyata sangat bermanfaat bagi yang tidak terbiasa dengan musim dingin. Syal dapat dililit ke leher sekaligus untuk menutupi hidung dan mulut, karena dinginnya winter bisa membuat lidah dan bibir kelu untuk berbicara. Ini serius lho ngga bercanda. Kemudian tutup telinga ini akan sangat dibutuhkan terutama bagi yang tidak suka menggunakan tutup kepala yang menutup telinga, karena angin dingin bisa membuat telinga sakit, tak jauh berbeda dengan efek mendengarkan bunyi yang memekakkan. Hawa dingin juga cukup membuat tangan kaku dan lama-lama terasa sakit seperti rasanya menggenggam es batu dengan tangan kosong selama sekian menit. Maka dari itu, sarung tangan sungguh sangatlah berguna.

Suhu Seoul saat itu memang cukup kering dan dingin meski tidak sedang turun salju. Mulanya di hari pertama tiba di Seoul suhu menunjukkan -3°C, lalu naik turun kemudian sampai dengan hari terakhir kami di sana sempat mencapai suhu -7°C. Sudah tentu jika tidak menggunakan pelembab, wajah dan bibir akan kering dan kelamaan berasa perih.

Picture1

Lokasi penginapan kami di Myeongdong memang strategis dan cukup dekat dengan banyak spot wisata Seoul. Myeongdong merupakan daerah yang ramai dan menjadi kawasan kuliner Seoul.

Di antara banyak lokasi yang harus dikunjungi di Seoul, salah satunya yaitu Sungnyemun Gate atau disebut Namdaemun Gate. Lokasi ini merupakan gerbang utama kerajaan dan menjadi warisan budaya nomor satu di Korsel.

DSC_0184

Deoksugung Palace merupakan istana kerajaan yang menurut sejarah merupakan istana kediaman Pangeran Wolsan. Di istana ini pengunjung dapat mencoba Hanbok untuk dikenakan selama masih di area istana Deoksugung.

DSC_0212

Arsitektur bangunan kekaisaran Korea mirip dengan arsitektur bangunan Cina karena pada dasarnya mereka berasal dari nenek moyang dengan sejarah yang sama. Berangkat dari sejarah itu, dahulu pada masa Joseon, Korea beralih dari penggunaan aksara Cina menggunakan aksara Korea yang disebut Huruf Hangeul.

DSC_0233

Di distrik Jongno, sebelum menuju pintu gerbang Gyeongbokgung Palace, pada pelataran Gwanghwamun Square terdapat patung Laksamana Yi Sun Shin dan Kaisar Sejong.

DSC_0258

Inilah Gyeongbokgung Palace yang berada di belakang Gwanghwamun Square. Istana ini merupakan kompleks kekaisaran jaman dinasti Joseon, merupakan warisan budaya dunia yang dilindungi UNESCO. Tiket masuk dikenakan biaya KRW 3.000 saja. Sebenarnya traveller dapat lebih berhemat hanya dengan KRW 10.000 saja sudah bisa mendapatkan tiket masuk 4 (empat) istana sekaligus yaitu Gyeongbokgung Palace, Deoksugung Palace, Changdeokgung Palace, Changgyeonggung Palace, dan Jongmyo Shrine.

DSC_0264

DSC_0269

DSC_0285

DSC_0288

DSC_0313

Salah satu yang menakjubkan bagi saya saat itu adalah danau yang membeku. Ini pertama kalinya saya melihat keseluruhan air danau berubah menjadi es secara sempurna dengan ketebalan entah berapa centimeter.

DSC_0343

Masih di areal Gyeongbokgung palace, kembali saya melihat endapan air sungai yang berubah menjadi es. Memang dengan suhu di bawah 0°C ini wajar saja jika seluruh air yang tidak bergerak akan membeku. Bahkan, jika air mineral kemasan diletakkan di luar ruangan pun beberapa menit kemudian akan membeku, karena memang suhu outdoor Seoul saat itu lebih dingin dibandingkan dengan suhu freezer pada kulkas rumah kita. Itulah makanya hampir di setiap rumah selalu ada penghangat ruangan.

DSC_0352

Di areal Jongmyo Shrine terdapat National Palace Museum. Di museum tersebut pengunjung dapat mengetahui sejarah orang Korea, lengkap mulai dari sejarah kerajaan, persenjataan, perkakas rumah tangga, peralatan pertanian, rumah, pakaian tradisional Korea, makanan khas dan sebagainya.

DSC_0332

Foto ini adalah capture dari Jongmyo Shrine yang berada di samping National Palace Museum.

DSC_0358

DSC_0375 - Copy

DSC_0384 - Copy

Tidak jauh dari Gwanghwamun Square, ada lokasi menarik yang cukup terkenal yaitu Chonggyecheon Stream. Tempat ini merupakan sungai kecil di tengah-tengah kota dan seringkali menjadi lokasi festival lampu di Korea. Sayangnya, saya tidak memiliki dokumentasi di lokasi tersebut karena file hilang bersama dengan rusaknya handphone suami.

Kita yang terbiasa menonton drama korea pasti seringkali melihat rumah tradisional yang menjadi latar syuting. Di Bukcheon Hanoek Village ini kita dapat berjalan kaki di gang-gang sempit desa dengan view rumah berornamen khas Korea.

DSC_0405 - Copy

Traveller muslim yang ingin sholat Jumat atau sholat berjamaah dapat bertandang ke Masjid Itaewon.

DSC_0420 - Copy

Dalam perjalanan mencari resto halal, akhirnya untuk pertama kali saya melihat wujud kucing Korea. Gendut banget ini kucing…

DSC_0426 - Copy

Itaewon merupakan kawasan Muslim dan banyak resto halal di sana. Ada resto halal Pakistan, Arab, Korea, Malaysia dan Indonesia. Pilihan saya jatuh pada resto Murree Korea Muslim Food. Sayang sekali sudah jauh-jauh datang ke Korea jika tidak mencicipi makanan asli sana. Inilah penampakan menu yang kami pesan, shin ramyun KRW 8000, kimchi chi-gae KRW 10.000 dan nasi biryani (khas Timur Tengah) KRW 7.000. Membeli menu-menu tersebut kami diberi kimchi sawi putih, nori, asinan tofu dan teri wijen secara cuma-cuma.

DSC_0429 - Copy

DSC_0435

Satu lagi tempat menarik yang sebaiknya dikunjungi yaitu Namsan Seoul Tower. Untuk menuju ke sana, kami naik bus dengan tujuan Namsan. Lagi-lagi, beginilah view di dalam bus seperti yang ada di drama-drama Korea.

DSC_0446

Di gunung Namsan inilah lokasi N-tower di mana kita dapat melihat penjuru kota Seoul dari ketinggian. Di sana, ada beberapa bangku berbentuk mirip bangku patah dengan latar belakang pohon gembok cinta, pagar yang dipenuhi dengan gembok warna-warni beraneka bentuk, teropong, tempat makan dan gondola.

DSC_0466

DSC_0483

DSC_0499

Nah lho..yang gagal fokus ngeliatin oppa di sebelah saya hayo ngaku…!😀

Namsan tower akan terlihat jauh lebih indah pada malam hari karena akan berhiaskan beraneka warna cahaya.

DSC_0519

Berkunjung ke Korea tidak lengkap jika belum mencoba pakaian tradisional ala hwangthaeja jeona (Putra Mahkota) dan ala bigung mama (putri mahkota). Maka sebelum berangkat ke bandara, saya dan suami mengunjungi Seoul Global Culture and Tourism Center yang berlokasi di kawasan Myeongdong. Di sana kami dapat mencoba hanbok gratis.

IMG_0875

Yang terakhir sebagai penutup catatan perjalanan saya ke Seoul kali ini, saya sangat merekomendasikan Namdaemun Market sebagai tempat shopping dan berburu souvenir oleh-oleh. Berbagai jenis item dengan harga yang relatif murah akan Anda temukan di sana.

Malaysia, Truly Asia…

Awal tahun 2016, saya dan suami berkesempatan untuk liburan ke Kuala Lumpur. Menginjakkan kaki di negeri jiran telah membuka mata saya, betapa tertinggalnya negara kita. Malaysia yang dulu katanya belajar kepada Indonesia, ternyata sudah menjadi negara yang maju dan disiplin. Berada di Malaysia terasa hampir seperti saat di Singapura. Malaysia yang merupakan negara multietnis ini telah memiliki tata kota yang rapi dan sistem transportasi massal yang nyaman. Banyak etnis di sana, mulai dari Melayu, Cina, India, Arab, dsb sebagaimana yang dideskripsikan di dalam film Upin dan Ipin.

Pesawat yang saya tumpangi mendarat di KLIA 2. KLIA 2 merupakan bandara baru setelah KLIA 1. KLIA 2 ini cukup tersohor di kalangan netizen backpacker dunia karena menjadi salah satu titik transit penerbangan internasional, menyediakan areal tidur gratis alias “tempat ngemper” bagi turis yang menginap di KLIA 2 tanpa khawatir akan diusir oleh petugas bandara.

Dari KLIA 2, saya dan suami dengan pertimbangan ekonomis memilih naik aerobus ke KL Sentral seharga RM 10 per kepala. Barulah saat pulang kami mencoba naik KLIA Ekspres (semacam kereta cepat) yang nyaman, bersih dan modern, dari KL Sentral ke KLIA 2 dengan harga tiket RM 55 per kepala. (Harga kurs RM 1.00 per Januari 2016 sekitar Rp 3100,-)

IMG-20160129-WA0006

Tiba di KL Sentral, saya dan suami memilih KFC sebagai tempat makan siang. Menu KFC di sini terasa tak biasa di lidah, nasinya bukan nasi putih melainkan semacam nasi lemak yang kental aroma rempahnya. Ada sih menu yang lebih nyambung di lidah, yaitu ayam dengan nasi bertabur remahan nori.

Inilah penampakan stasiun KL Sentral yang modern, dilengkapi dengan mesin tiket, gate elektronik dan eskalator. KL Sentral merupakan stasiun penghubung layaknya Manggarai, Jatinegara atau Gambir.

DSC_0003

Bagi traveller yang sekedar transit di KL atau hanya travelling selama seharian saja, di KL Sentral arah Musholla dan toilet ada jajaran loker elektronik. Loker tersedia dengan beberapa ukuran dan tarif berbeda. Harganya relatif lebih murah dibandingkan dengan Luggage Storage di terminal kedatangan KLIA 2. Saya saja menitipkan tas ukuran backpacker di Luggage Storage dikenai tarif RM 19.10 /24 jam, sedangkan di KL Sentral harganya hanya separuhnya.

DSC_0001

Beginilah penampakan Rapid KL train. Yang jelas, perjalanan Rapid KL tidak mengganggu lalu lintas kendaraan bermotor karena memiliki jalur tersendiri. Selain tidak menimbulkan kemacetan, Rapid KL sangat nyaman dan bersih. Untuk melihat rute, tarif dan jadwal Rapid KL, traveller dapat membuka link www.myrapid.com.my/.

DSC_0009

DSC_0149

Selain naik Rapid KL, traveller juga dapat memilih mode transportasi bus seperti KL Hop On Hop Off. Untuk melihat rute dan tarif, traveller dapat mengunjungi situs www.myhoponhopoff.com/kl/visitor.php. Selain KL Hop On Hop Off, traveller yang hobi berburu gratisan juga dapat memanfaatkan fasilitas bus gratis Go KL. Meskipun Go KL ini gratis, fasilitas interiornya sangat nyaman dan bersih, tidak kalah dengan fasilitas berbayar lainnya. Cek saja website www.gokl.com.my/ untuk informasi lebih lengkap tentang Go KL.

DSC_0011

Untuk liburan jangka panjang, tentunya saya merekomendasikan traveller untuk mengunjungi Batu Caves, Istana Negara, Masjid Sultan Salahuddin Abdul Aziz dan Colmar Tropicalnya Berjaya Hills.

Namun demikian, untuk waktu traveling yang cukup singkat masih ada banyak alternatif tempat yang dapat dikunjungi dan masih dalam lingkup kota Kuala Lumpur.

Central Market merupakan situs warisan budaya yang merupakan tempat berbelanja dan kuliner di Kuala Lumpur.

DSC_0039

Kuala Lumpur juga memiliki kawasan belanja pecinan yang cukup terkenal di Petaling Street. Berbagai ornamen, souvenir dan kuliner Tiongkok dapat ditemui di sana layaknya pasar Wangfujing di Beijing.

DSC_0033

DSC_0035

Kuala Lumpur memang memiliki banyak wajah. Di satu kawasan tak jauh dari Petaling Street juga ada kuil India Sri Mahamariamman Temple.

DSC_0012

Dekat dari kuil, jajaran pedagang India nampak sedang merangkai kalung bunga atau yang biasa disebut “garlan”.

DSC_0022

Satu tempat yang jangan lupa untuk dikunjungi ketika berkunjung ke KL yaitu lokasi Dataran Merdeka. Tempat ini ibarat alun-alunnya Kuala Lumpur, dengan tanah lapang hijau dikelilingi bangunan-bangunan tua bersejarah yang seolah bercerita tentang perjalanan Malaysia hingga terbebas dari belenggu kolonialisme. Beberapa bangunan tersebut yaitu Museum Tekstil, Museum Sejarah Nasional, KL City Gallery, KL City Library, Victorian Fountain, Royal Selangor Club, City Theatre, Malaysian Institute of Architect, Sultan Abdul Samad Building dan St Mary’s Cathedral.

DSC_0049

DSC_0047

DSC_0077

Nampak dari jauh nampak tower Sky KL di belakang bangunan Sultan Abdul Samad.

DSC_0080

Meskipun Dataran Merdeka cukup mahsyur, namun rupanya justeru Petronas Twin Tower sebelah KLCC yang menjadi ikon kota Kuala Lumpur. Menara kembar pencakar langit dengan jembatan penghubung milik perusahaan raksasa minyak Malaysia ini merupakan spot yang menjadi daya tarik wisatawan dunia. Pada sore hari menjelang petang, akan mulai banyak berdatangan pengunjung memenuhi area pelataran Twin Tower. Biasanya pengunjung menunggu petang sampai seluruh lampu putih dari menara ini dinyalakan. Pemandangan Twin Tower yang bermandikan cahaya putih inilah yang akan mengundang kekaguman pengunjung wisatawan karena melihat kemegahannya.

DSC_0116

Ketinggalan Pesawat!

Artikel ini kurang lebihnya membahas sharing pengalaman saya pribadi, harapannya bisa menjadi pembelajaran. Ketinggalan pesawat berdampak rugi waktu, energi dan biaya tentunya. Banyak faktor yang menyebabkan ketinggalan pesawat, baik yang dapat diprediksi ataupun tidak dapat diprediksi, dan ini harus diantisipasi.

1. Jalan Macet atau Antrian Panjang Check In

Yup seperti yang kita ketahui, lalu lintas di Jakarta cukup padat sehingga ketika akan menuju bandara kita harus menyediakan spare waktu supaya sampai di bandara minimal satu jam sebelum keberangkatan. Kemacetan Jakarta atau kota besar lainnya tidak dapat diprediksi. Saya pun pernah berangkat ke bandara Soekarno-Hatta dengan spare waktu 3 jam dari waktu keberangkatan pesawat, salah ambil jalur dan itu sungguh macet. Sesampainya di bandara, antrian panjang check in pun tidak dapat dihindari karena saat itu adalah bulan-bulan menjelang akhir tahun. Beberapa bulan menjelang akhir tahun memang merupakan waktu terpadat bandara Soetta menurut sepengetahuan saya. Seharusnya saat itu masih memungkinkan untuk tetap bisa boarding andaikan saya sudah melakukan check in online, sayangnya saat itu saya belum melakukan check in online sehingga harus melalui counter check in biasa. Alhasil saat sudah berada di loket check in, petugas menolak saya karena sudah tutup waktu check in. Beruntung maskapai yang akan saya tumpangi berbaik hati untuk memberikan alternatif. Karena penerbangan ke tujuan saya hari itu sudah tidak ada, maka customer service manawarkan saya untuk ganti pesawat dari maskapai lain atau menunggu jadwal penerbangan awal esok harinya. Saya memilih ganti jadwal pesawat esok hari. Konsekuensi pilihan ini adalah jika harga tiket pengganti lebih mahal maka kita harus membayar selisih lebih dari harga tiket pesawat sebelumnya. Beruntung saat itu saya tidak harus membayar selisih, namun jelas saya sudah rugi waktu. Menunggu sampai besok pagi maka saya memilih untuk pulang ke rumah dan kembali lagi keesokan harinya.

2. Kepadatan Jalan Saat Masa Mudik Hari Raya

Siapa sangka seluruh kendaraan plat B akan memenuhi jalanan kota Jogja. Bahkan saat itu kemacetan Jogja lebih parah dibandingkan kemacetan Jakarta di hari kerja. Karena yakin akan terlambat tiba di bandara, maka saya dan suami mencoba menelepon customer service maskapai yang akan saya tumpangi. Berulang kali menelepon tapi tak ada respon, pihak travel pun juga tidak dapat berbuat apa-apa. Saat itu yang ada di pikiran saya, “Maskapai macam apa ini, customer service di siang bolong kok ngga bisa dihubungi…”.

Well, waktu tempuh ke bandara yang seharusnya hanya 1 jam molor menjadi 3 jam. Amazing!. Sampai di bandara sudah tinggal 5 menit lagi dari waktu keberangkatan pesawat, jelas saat itu pintu pesawat sudah ditutup. Sudah tentu kami pasrah dan bersiap untuk berburu tiket pengganti sambil membayangkan bahwa betapa sulitnya mencari tiket saat masa-masa mudik. Dengan muka pasrah kami mendatangi counter check in yang saat itu sudah sepi, dan petugas pun langsung tersenyum kepada saya dan suami “masih rejekinya ya, Bu”. Saya langsung berasumsi bahwa pesawat delay, dan alhamdulillah memang benar pesawat delay selama 45 menit karena keterlambatan terbang dari tempat bertolaknya di Jakarta.

3. Lokasi Baru, Lupa Waktu, Salah Prediksi Waktu, Over PD

Ini terjadi saat saya dan suami travelling ke luar negeri. Tak perlu disebutkan lah dimananya. Yang jelas beberapa jam sebelum menuju bandara saya mampir ke pasar souvenir. Yah namanya juga emak-emak, kalau lagi belanja bisa lupa waktu. Sibuk pilih oleh-oleh dan bandingin harga, sampai-sampai tidak memperhitungkan waktu tempuh ke bandara. Asumsi saya di dekat area publik pasti ada stasiun kereta cepat, namun rupanya kami tak kunjung menemukannya. Kami berjalan tak tahu harus kemana dan bertanya kesana kemari, itu cukup membuang banyak waktu. Ditambah lagi, kami salah memilih kereta cepat menuju bandara. Jadi saat itu ada dua jenis kereta ke bandara, ada yang express (berhenti di setiap stasiun) dan super express (langsung ke bandara tanpa berhenti di stasiun-stasiun kecil). Saya dan suami terlanjur masuk kereta express.

Tak usai sampai di situ, turun dari kereta kami masih disibukkan mencari lokasi check in di bandara yang begitu luasnya.

(FYI, luas bandara di luar negeri memang tidak bisa dibandingkan dengan luas bandara Soekarno-Hatta sekalipun, sudah begitu dari lokasi check in ke lokasi boarding masih harus naik kereta cepat bandara. Hadeh..hadeh..kebayang kan, dari lokasi check in ke lokasi boarding saja harus naik kereta cepat, berarti bandaranya luas bingits.)

Setelah mengikuti papan pengumuman dan papan petunjuk jalan, akhirnya ketemu counter check in yang letaknya nyaris di ujung. Apesnya counter check in sudah sepi. Fix ketinggalan pesawat, akhirnya saya dan suami muterin bandara mencari lokasi kantor maskapai. Di sana kami membeli tiket baru, dan bisa ditebak…harga tiket penerbangan internasional sudah tentu mahal. Tiga kali harga tiket yang saya beli, saudara-saudara… Kalo dipikir-pikir uang segitu mah bisa buat sekali jalan-jalan ke luar negeri lagi. Tapi ya balik lagi, satu-satunya yang terpikirkan saat itu yang penting bisa balik ke tanah air dan ke rumah tercinta, karena esok harinya harus kerja.

Jadi benar ya, terbukti sudah bahwa: Time is money!

 

One Day, Sydney!

Sebelum bercerita soal Sydney, saya hanya ingin memberitahu traveller supaya jangan pernah salah menulis Sydney dengan tulisan Sidney. Sidney ada di belahan bumi Amerika, sedangkan Sydney yang pake “y” ada di Australia. Sydney merupakan ibu kota dari New South Wales. Jadi nanti sebelum melewati gate pemeriksaan, pada kolom “state” form imigrasi silakan diisi dengan “NSW”.

DSC_0756

Saat itu akhir tahun 2015, cuaca Sydney akhir tahun lebih hangat ketimbang di Melbourne. Kegiatan saya di Sydney diawali dengan muteri-muterin area bandara namun tak kunjung menemukan prayer room. Setelah bertanya kesana kemari dan mengikuti alur peta airport, akhirnya ketemulah universal prayer room di airport office.

20151204_044733

Dari Tullamarine airport menuju kota kita dapat memilih kereta cepat, begitu juga untuk mobilitas dalam kota Sydney.

20151204_091226

DSC_0583

DSC_0584

DSC_0585

Sistem pembayaran transportasi dapat menggunakan kartu OPAL, cara penggunaannya tidak jauh berbeda dengan AT-HOP card.

20160101_165635

Ikon dari Sydney yang hukumnya wajib dikunjungi yaitu Opera House. Bukan ke Australia namanya jika belum ke sini. Bangunan Opera House mirip seperti keong raksasa, lokasinya berada di pinggir laut. Di seberangnya ada Royal Opera House Bridge. Untuk mendapatkan hasil foto dengan bentuk sempurna dari Opera House dan bridge, pengunjung dapat naik ferry untuk mengambil angle yang tepat.

20151204_114652

Ketika berkeliling di sekitaran Opera House, saya dan rekan sempat diajak ngobrol oleh orang Turki. Dia menanyakan saya dari negara mana dan meminta saya untuk menceritakan apa saja yang indah dari Indonesia. Pertanyaan ini cukup sulit untuk saya jawab mengingat bahwa Indonesia memiliki warisan budaya kuno dan keindahan alam namun belum terkelola dengan baik, ya sebisanya saya menjelaskan yang bagus-bagus di Indonesia. Ujung-ujungnya sang turis Turki dengan bangganya menceritakan bahwa Istanbul (read: ibu kota Turki) memiliki  tempat wisata yang jauh lebih menarik dibandingkan Sydney. Yup, memang benar. Setiap liputan travel ke Turki selalu memperlihatkan banyak bangunan indah ala negeri dongeng Aladin. I hope to go there someday…

Oiya, bagi yang suka shopping atau sekedar mencari makan dan memotret bangunan ala Eropa, di Sydney ada Queen Victoria Building.

DSC_0593

DSC_0597

Di seberang Queen Victoria Building juga terdapat The Town Hall dan St. Andrew’s Cathedral.

DSC_0586

Kemudian satu tempat menarik untuk objek foto yaitu Saint Mary’s Cathedral.

DSC_0771

Tak jauh dari St Mary’s Cathedral, tepatnya di Hyde Park. Taman ini ada air mancurnya, dan semacam hutan kotanya begitu. Saya beberapa kali mendapati sekawanan unggas yang berbentuk mirip dengan burung kiwi namun berwarna putih. Sangat jinak karena tidak takut pada manusia dan mereka seolah menunggu pengunjung untuk memberi makanan. Entah burung apa itu namanya. Googling sana sini akhirnya ketemu lah bahwa burung tersebut adalah spesies burung Ibis. Excited banget, sudah beberapa kali nginep di hotel Ibis tapi baru sekarang tahu ibis itu wujudnya seperti apa.

DSC_0808

Sebenarnya travel saya ini kurang lengkap karena tidak mampir ke kebun binatangnya Australia. Bahkan sampai dengan menginjakkan kaki di sana pun belum kesampaian melihat baby kangaroo.

Seperti halnya Beijing, Auckland, Seoul dan kota-kota di negara lainnya, Sydney juga memiliki Sydney Tower Eye and Skywalk.

DSC_0765

Masih dekat dengan St Mary’s Cathedral terdapat bangunan ANZAC War Memorial.

DSC_0810

Hal yang jangan sampai ketinggalan ketika traveling ke luar negeri adalah mencari oleh-oleh khas negara tersebut. Sebelunya saya telah mendapatkan rekomendasi untuk berbelanja souvenir di Paddys Market sebelah Market City. Dan benar di sana Paddy’s Market ini semacam tanah abangnya Sydney, berbagai macam souvenir khas Australia dengan berbagai rupa dan harga murah bisa kita temui di sana. Love it!

DSC_0820

DSC_0822

NZ, Kiwi Land !

Kesempatan luar biasa bisa menjejakkan kaki di Auckland, kota di North Island New Zealand. Kalau kata orang, Pulau Utara ini lebih dominan wisata perkotaan sedangkan di Pulau Selatan lebih dominan wisata alamnya. Ya tapi meskipun demikian, saya akui negara ini merupakan negara dengan tata kota yang sangat baik dan sangat menghargai alam. Banyak taman kota dengan kondisi yang sangat terawat. Tidak salah jika Auckland disebut dalam 3 (tiga) besar kota di dunia yang paling nyaman menjadi tempat tinggal.

Yup, untuk apply visa New Zealand saya mengurusnya di Kuningan City, satu ruangan yang sama dengan tempat apply visa Australia dan United Kingdom. Visa saya approved pada hari ketujuh.

Saat itu NZ $ 1.00 senilai Rp 9200,-. Tidak berbeda jauh dengan mata uang Australia, mata uang New Zealand juga ada yang bergambar Queen Victoria.

20151126_063634.jpg

New Zealand Dollar

Kia ora… Here I’am, New Zealand, akhirnya tercatat dalam salah satu kisah hidup saya bahwa saya pernah menjejakkan kaki di negara Kiwi pada tahun 2015. Bahasa Maori memang unik, begitulah kata sambutan bagi kita “kia ora” yang artinya be well/healthy. Ngomong-ngomong orang Maori badannya tinggi besar, ketika berkunjung ke NZ kita dapat langsung membedakannya dari warga pendatang yang tinggal di sana.

Bulan Desember di New Zealand adalah musim panas. Musim panas di sana tetaplah terasa dingin bagi penghuni tanah tropis seperti saya ini. Suhu rata-rata selama beberapa hari di sana berkisar 14-19 derajat celcius. Angin dingin yang menerpa wilayah NZ saya yakini berasal dari kutub selatan sana, hehe menduga-duga saja. Saya pribadi harus menggunakan 4 lapis baju karena tidak tahan dengan angin dinginnya, terdiri dari longjohn, 2 baju dan coat. Auckland 6 jam lebih cepat dari waktu di Jakarta.

Untuk mempermudah dalam membayar transportasi di NZ, kita dapat menggunakan AT HOP card. Kartu dan top up deposit dapat dilakukan di loket kereta atau dapat melihat panduan lengkapnya di https://at.govt.nz/. AT HOP card dapat digunakan untuk membayar tarif kereta, bus, ferry dan parkir.

20160101_165550

Tidak jauh berbeda dari Australia, perjalanan dari bandara ke kota dapat ditempuh dengan naik skybus berfasilitas free wifi.

Sewaktu di Auckland, saya memilih Ibis Style Hotel karena dengan harga 1 jutaan rupiah sudah worth it dengan fasilitas tv, kamar mandi, dapur kecil (dengan kompor, water heater, oven, kulkas, perlengkapan makan) dan penghangat ruangan. Sayangnya fasilitas free wifi hanya ada di lobi hotel, itupun dibatasi hanya 1 jam. Selebihnya, untuk dapat mengakses wifi di kamar hotel dikenakan tarif.

Inilah kelebihan dari Auckland. Meskipun fasilitas wifi di hotel sangat dibatasi, namun saya bisa pergi keluar untuk mengakses free wifi hampir di setiap sudut kota. Setiap beberapa meter di pinggir jalan raya, selalu ada tempat duduk untuk sekedar berselancar di dunia maya. Amazing-nya ya, wifi gratis juga bisa diakses di area publik contohnya di areal taman seperti Albert Park. Prosedurnya cukup mudah, hanya perlu melakukan login dengan alamat email saja.

20151129_090334

Ini dia penampakan “gardu” free wifi di Auckland

Jika ingin berjalan-jalan seputaran Auckland, kita perlu mencatat nomor rute supaya tidak bingung. Cukup mudah dapat dilihat di web http://at.govt.nz/. Naik bis tap-kan kartu AT HOP di pintu depan, saat akan turun tekan tombol “stop” di samping tempat duduk supaya bus berhenti dan lakukan tap di pintu belakang sebelum turun dari bus. Bus hanya akan berhenti di halte saja, tidak akan menurunkan penumpang di sembarang tempat.

Selain dengan bus, kita juga dapat memanfaatkan kereta cepat. Fasilitas di dalam kereta sangat baik, dilengkapi dengan tempat duduk prioritas untuk kaum difabel dan tempat meletakkan sepeda lipat.

Sky tower merupakan tempat yang paling menonjol di Auckland. Menara ini terlihat hampir di setiap sudut kota dan merupakan spot tertinggi. Sky tower akan sangat indah jika dilihat pada malam hari karena akan dihiasi dengan berbagai warna lampu. Dari atas tower ini pengunjung dapat melihat kota Auckland dari ketinggian dan terkadang tower ini dimanfaatkan untuk adrenaline air sport seperti sky jump (bungee jump) dan sky walk.

20151129_200415

Ada cerita lain tentang sisi kenyamanan kota Auckland. Harbour Ferry Building Auckland merupakan area favorit tempat saya dan rekan bersantai pada sore hari. Meski anginnya cukup dingin, duduk di bangku umum sambil ngemil kripik kentang dan melihat kawanan burung camar terbang rasanya lelahpun hilang. Burung camar di Auckland pada umumnya tidak takut manusia, malah cenderung mendekati manusia untuk ikut ngemil. Hihi…

DSC_0389

DSC_0379

20151129_091141

Auckland 6 jam lebih lambat dari waktu di Jakarta. Siang harinya juga lama, maghrib jatuh pada pukul 20.00 waktu sana. Oleh karena itu, selain menunggu petang di pelabuhan, terkadang saya juga menghabiskan waktu sore hari Albert park. Taman ini ditumbuhi hamparan rumput hijau, berbagai macam flora dan dilengkapi dengan sarana untuk bersantai atau bahkan memberi pakan burung. Saya sangat suka dengan bunga hydrangea dan bunga mawarnya. Bunga mawar di Auckland sangat indah, satu pohon akan ada banyak mawar sedangkan daunnya sedikit serta tidak berduri. Berbeda dengan mawar di Jakarta yang banyak daunnya tapi sedikit bunganya.

20151129_182331

20151129_200645

Saya cukup heran dengan alam Auckland, bahkan hamparan rumput liar saja tumbuh bunga, bunganya tidak berbulu seperti yang di Indonesia. Bunga rumputnya ada yang berwarna kuning dan putih, lebih mirip chrysanthemum. Padahal sekilas rumputnya mirip dengan rumput yang tumbuh di Indonesia. Begitu juga dengan pohon cemara, di Auckland bahkan cemara pun berbunga.

20151202_180221

DSC_0543

20151202_172952

Lihat saja hamparan rumput hijau, bagian yang terlihat agak putih dari kejauhan itu juga kumpulan bunga rumput.

20151202_180205

Bersantai di Albert Park tidak lengkap jika tidak membawa camilan. Justeru asiknya ketika membawa biskuit, keripik atau biji-bijian kita pun bisa berbagi makanan untuk sekawanan burung merpati dan burung gereja. Menyenangkan sekali, kapan lagi ada burung yang berani bertengger di lengan kita sementara di Indonesia bahkan tidak ada burung liar yang mendekati manusia sekalipun.

20151129_184154

Yup, seperti pada judulnya bahwa New Zealand ini merupakan negara asal spesies burung kiwi. Namun selama di Auckland saya belum sempat melihat burung kiwi ini. Ya..tapi setidaknya saya sempat melihat penampakan souvenir miniatur burung kiwi.

Tidak jauh dari Albert Park ada University of Auckland. Barangkali ada di antara pengunjung blog yang ingin melanjutkan sekolah di luar negeri, saya rasa Auckland bisa menjadi salah satu pilihan. Yang paling terkenal sebagai ikon universitas ini adalah menara jam (Old Arts Building).

20151129_195508

Satu yang tidak boleh terlewatkan ketika berkunjung ke Auckland yaitu berkunjung ke Memorial War Museum. Lokasi ini sangat terkenal dan paling sering dikunjungi. Hasil jepretan saya di bawah ini sekaligus mendeskripsikan kekaguman saya “masih” dengan rumput di Auckland. Hehe… (Btw, ini ambil gambarnya sampai tiarap di rerumputan biar angle-nya pas)

DSC_0555

Tidak jauh dari museum akan terlihat hamparan rumput hijau ala bukit teletubbies dari Auckland Domain. Padang hijau teletubbies memang merupakan ciri khas dari alam Auckland.

DSC_0545

Diantara hamparan hijau itu akan terlihat sebuah gedung yang di dalamnya menyimpan banyak flora.

IMG_1862

Auckland Domain winter garden dan tropical garden terdiri dari dua ruangan. Satu gedung khusus flora yang hidup di negara musim dingin dan satu gedung lagi untuk flora tropis. Gedung winter garden dipenuhi dengan flora beraneka warna. Winter garden ini juga cocok untuk lokasi foto pre/post wedding. Lain halnya ketika memasuki gedung dengan tanaman flora musim tropis, saya mulai merasa gerah. Suhu di dalam ruangan memang di-setting suhu tropis dan jenis floranya lebih dominan warna hijau sama seperti di Indonesia. Yang jelas, disana tertera tulisan peringatan bahwa pengunjung dilarang memetik bunga di dalamnya.

Berikut ini hasil jepretan kamera di dalam gedung Auckland Domain Winter Garden:

IMG_1885

IMG_1898

IMG_1873

IMG_1884

IMG_1893

IMG_1896

IMG_1897

IMG_1913

Di areal Auckland Domain ini juga ada danau di mana kita bisa memberi makan itik, angsa, bebek dan burung. Awesome place to visit!

20151202_173815

Sebelum pemmbaca bosan, maka saya beralih ke hal-hal berkaitan dengan logistik selama di Auckland. Salah satu hal lucunya pernah saya lalui. Persiapan yang rempong sekali karena kekhawatiran akan kesulitan mendapatkan makanan halal, alhasil separuh dari isi koper berisi makanan.

20151122_102823

Rupanya di Auckland kita tidak perlu khawatir akan makanan halal. Ada beberapa resto makanan halal yang saya rekomendasikan. Tempatnya tidak jauh dari Sky tower, lokasinya di 9 Albert Street, namanya Resto Food Alley. Traveller, di kafe Wardani inilah kita dapat berbincang dengan penjual yang pernah tinggal dan dapat berbahasa Indonesia.

20151129_205915

20151129_205647

20151129_205730

20151129_205708

Kalau saat ini strawberry Korea sedang kekinian menurut para netters, sebenarnya strawberry Auckland tidak kalah cetarnya. Strawberry di sini lumayan manis dan berukuran besar. Coba lihat saja perbandingannya dengan ukuran tangan saya, bandingkan dengan ukuran strawberry yang biasa kita konsumsi.

20151202_143142

Traveller yang ingin mencari souvenir, Aotea gifts shop yang terletak di Lower Albert Street merupakan toko oleh-oleh khas Auckland paling terkenal. Tokonya lumayan besar, lengkap dan harganya relatif murah. Sebenarnya masih banyak toko souvenir lainnya di sekitar Albert Street dan Queen Street. Pada souvenir khas New Zealand, kita akan melihat ikon burung kiwi, gambar silver fern ataupun tulisan “All Black”.

1

(Sumber: Gambar dari Google)

Selain souvenir khas New Zealand, bagi traveller yang berminat mencari barang branded juga dapat mencarinya di jajaran toko barang branded di sepanjang Queen Street. Ada toko seperti Louis Vuitton, Gucci, Scarpa, dsb.

20151129_202011

Memang ada yang unik dari negara maju. Oleh karena itu jika ada kesempatan, meski sekali saja kita perlu melancong ke luar negeri untuk sekedar mempelajari budaya mereka. Jalanan di Auckland sepi pada jam sibuk dan akan sangat ramai ketika jam pergi atau pulang kerja, yang nongkrong di jalan hanyalah gelandangan. Pernah suatu malam saya melihat sekumpulan orang mendatangi seorang gelandangan di pinggir toko, mereka mengulurkan beberapa makanan dan memberi motivasi kepadanya. Rupanya seperti itu kehidupan sosial di Auckland.

IMG-20151203-WA0003

Dalam hal lalu lintas, para pemakai kendaraan bermotor dan penyeberang jalan patuh pada rambu-rambu. Ketika akan menyeberang jalan kita perlu memperhatikan rambu penyeberangan, merah artinya kita belum boleh menyeberang, hijau berarti waktunya kita menyeberang. Meskipun saat itu malam hari dan sedang tidak ada penyeberang jalan pun, pengendara bermotor akan tetap patuh pada rambu lalu lintas. Ini yang perlu kita contoh untuk negara kita, pejalan kaki dapat dengan nyaman berjalan di trotoar maupun jalan raya, dan pengendara bermotor pun merasa aman dalam perjalanan.

IMG-20151203-WA0002

Beberapa hari di Auckland cukup meyakinkan saya bahwa memang benar Auckland merupakan kota yang sangat nyaman sebagai tempat tinggal. Saya berharap semoga suatu hari nanti diberikan kesempatan untuk kembali ke Auckland.

Finally, artikel ini akan saya tutup dengan informasi fasilitas self check in di Auckland airport bagi pemegang passpor elektronik maupun non elektronik. Cara yang cukup mudah memanfaatkan mesin check in dengan layar sentuh, selesai check in boarding pass akan dicetak oleh mesin ini hingga selanjutnya kita tinggal antri untuk pemeriksaan bagasi.

20151203_144547

DSC_0579

 

  • [ It’s Me, AENI ]

    Meski hanya sebuah blog yang sederhana, namun dengan niat berbagi dan bertukar informasi tentang dunia Islam, Travelling dan Kriptografi, semoga bisa bermanfaat....

  • Blog Stats

    • 144,162 hits