Seoul City Trip

Keinginan untuk melihat salju membawa saya pergi ke negeri Joseon ini pada Januari 2016. Awalnya sih berencana ke Jepang, namun karena saya sedang kecanduan film drama korea maka banting setirlah ke negeri ini.

Mengurus visa Korea Selatan menurut saya tidak sesulit yang diceritakan, asalkan berkas yang kita ajukan lengkap. Lokasi kantor perwakilan Korea Selatan berada tak jauh dari halte TransJakarta Tegal Parang. Biaya apply visa Korsel waktu itu Rp 560.000,- per orang. Visa selesai sekitar 10 hari kerja.

Hoanyonghamnida, selamat datang di Seoul…Bagi penggemar drama korea pasti tak asing lagi dengan terminal kedatangan ini karena hampir semua film ada casting di area ini.

DSC_0152

Perjalanan saya kali ini ditemani oleh suami dan seorang rekan. Sampai di terminal kedatangan kami berjalan ke arah kiri mencari minimarket yang menjual T-Money, biasanya di GS25 atau 7-11. T-Money berfungsi sebagai kartu pembayaran transportasi di Korea Selatan, kartu ini akan di-tap pada gate stasiun atau pada pintu keluar-masuk bus. Harga kartu itu sendiri seharga KRW 4000, sedangkan nominal isi ulangnya kita yang tentukan sendiri. Isi ulang kartu dapat dilakukan di mini market atau di mesin isi ulang T-Money (1 KRW (Korea Won) = Rp 11,-). Ini dia wujud T-Money yang saya beli waktu itu, pengguna aplikasi Line sudah tentu familiar dengan penampakan beruang imut ini.

DSC_0155

Dari bandara menuju Seoul Station kita dapat memilih kereta cepat AREX Express atau AREX all stop train. Harga tiket AREX express KRW 8.000, sedangkan AREX all stop train seharga KRW 4.250. Kemudian dari Seoul station menuju kota lain, atau untuk mobilitas di dalam kota Seoul, kita dapat menggunakan kereta subway. Subway di Seoul memiliki banyak jalur yang disimbolkan dengan kode warna, supaya tidak bingung sebaiknya traveller menginstal aplikasi Subway Korea atau disarankan untuk selalu membawa subway map.  Untuk mengetahui info transportasi korea selatan, kunjungi web http://english.visitkorea.or.kr/.

DSC_0255

Saat itu, dari Seoul station saya dan suami mengambil jalur ke arah Myeongdong. Kebetulan penginapan kami ada di distrik tersebut. Turun dari subway yang berada di stasiun bawah tanah kami berjalan menuju pintu keluar. Begitu sinar matahari dan langit terlihat, brrrr…hawa dingin menerpa. Menurut accuweather, suhu saat itu mencapai -3°C. Memang kami sudah mempersiapkan dari awal perlengkapan musim dingin seperti longjohn, pakaian-pakaian tebal, jaket tebal, syal, tutup telinga dan sarung tangan.

Menurut saya, syal, tutup telinga dan sarung tangan ini memang terlihat hanya seperti asesoris sepele, namun ternyata sangat bermanfaat bagi yang tidak terbiasa dengan musim dingin. Syal dapat dililit ke leher sekaligus untuk menutupi hidung dan mulut, karena dinginnya winter bisa membuat lidah dan bibir kelu untuk berbicara. Ini serius lho ngga bercanda. Kemudian tutup telinga ini akan sangat dibutuhkan terutama bagi yang tidak suka menggunakan tutup kepala yang menutup telinga, karena angin dingin bisa membuat telinga sakit, tak jauh berbeda dengan efek mendengarkan bunyi yang memekakkan. Hawa dingin juga cukup membuat tangan kaku dan lama-lama terasa sakit seperti rasanya menggenggam es batu dengan tangan kosong selama sekian menit. Maka dari itu, sarung tangan sungguh sangatlah berguna.

Suhu Seoul saat itu memang cukup kering dan dingin meski tidak sedang turun salju. Mulanya di hari pertama tiba di Seoul suhu menunjukkan -3°C, lalu naik turun kemudian sampai dengan hari terakhir kami di sana sempat mencapai suhu -7°C. Sudah tentu jika tidak menggunakan pelembab, wajah dan bibir akan kering dan kelamaan berasa perih.

Picture1

Lokasi penginapan kami di Myeongdong memang strategis dan cukup dekat dengan banyak spot wisata Seoul. Myeongdong merupakan daerah yang ramai dan menjadi kawasan kuliner Seoul.

Di antara banyak lokasi yang harus dikunjungi di Seoul, salah satunya yaitu Sungnyemun Gate atau disebut Namdaemun Gate. Lokasi ini merupakan gerbang utama kerajaan dan menjadi warisan budaya nomor satu di Korsel.

DSC_0184

Deoksugung Palace merupakan istana kerajaan yang menurut sejarah merupakan istana kediaman Pangeran Wolsan. Di istana ini pengunjung dapat mencoba Hanbok untuk dikenakan selama masih di area istana Deoksugung.

DSC_0212

Arsitektur bangunan kekaisaran Korea mirip dengan arsitektur bangunan Cina karena pada dasarnya mereka berasal dari nenek moyang dengan sejarah yang sama. Berangkat dari sejarah itu, dahulu pada masa Joseon, Korea beralih dari penggunaan aksara Cina menggunakan aksara Korea yang disebut Huruf Hangeul.

DSC_0233

Di distrik Jongno, sebelum menuju pintu gerbang Gyeongbokgung Palace, pada pelataran Gwanghwamun Square terdapat patung Laksamana Yi Sun Shin dan Kaisar Sejong.

DSC_0258

Inilah Gyeongbokgung Palace yang berada di belakang Gwanghwamun Square. Istana ini merupakan kompleks kekaisaran jaman dinasti Joseon, merupakan warisan budaya dunia yang dilindungi UNESCO. Tiket masuk dikenakan biaya KRW 3.000 saja. Sebenarnya traveller dapat lebih berhemat hanya dengan KRW 10.000 saja sudah bisa mendapatkan tiket masuk 4 (empat) istana sekaligus yaitu Gyeongbokgung Palace, Deoksugung Palace, Changdeokgung Palace, Changgyeonggung Palace, dan Jongmyo Shrine.

DSC_0264

DSC_0269

DSC_0285

DSC_0288

DSC_0313

Salah satu yang menakjubkan bagi saya saat itu adalah danau yang membeku. Ini pertama kalinya saya melihat keseluruhan air danau berubah menjadi es secara sempurna dengan ketebalan entah berapa centimeter.

DSC_0343

Masih di areal Gyeongbokgung palace, kembali saya melihat endapan air sungai yang berubah menjadi es. Memang dengan suhu di bawah 0°C ini wajar saja jika seluruh air yang tidak bergerak akan membeku. Bahkan, jika air mineral kemasan diletakkan di luar ruangan pun beberapa menit kemudian akan membeku, karena memang suhu outdoor Seoul saat itu lebih dingin dibandingkan dengan suhu freezer pada kulkas rumah kita. Itulah makanya hampir di setiap rumah selalu ada penghangat ruangan.

DSC_0352

Di areal Jongmyo Shrine terdapat National Palace Museum. Di museum tersebut pengunjung dapat mengetahui sejarah orang Korea, lengkap mulai dari sejarah kerajaan, persenjataan, perkakas rumah tangga, peralatan pertanian, rumah, pakaian tradisional Korea, makanan khas dan sebagainya.

DSC_0332

Foto ini adalah capture dari Jongmyo Shrine yang berada di samping National Palace Museum.

DSC_0358

DSC_0375 - Copy

DSC_0384 - Copy

Tidak jauh dari Gwanghwamun Square, ada lokasi menarik yang cukup terkenal yaitu Chonggyecheon Stream. Tempat ini merupakan sungai kecil di tengah-tengah kota dan seringkali menjadi lokasi festival lampu di Korea. Sayangnya, saya tidak memiliki dokumentasi di lokasi tersebut karena file hilang bersama dengan rusaknya handphone suami.

Kita yang terbiasa menonton drama korea pasti seringkali melihat rumah tradisional yang menjadi latar syuting. Di Bukcheon Hanoek Village ini kita dapat berjalan kaki di gang-gang sempit desa dengan view rumah berornamen khas Korea.

DSC_0405 - Copy

Traveller muslim yang ingin sholat Jumat atau sholat berjamaah dapat bertandang ke Masjid Itaewon.

DSC_0420 - Copy

Dalam perjalanan mencari resto halal, akhirnya untuk pertama kali saya melihat wujud kucing Korea. Gendut banget ini kucing…

DSC_0426 - Copy

Itaewon merupakan kawasan Muslim dan banyak resto halal di sana. Ada resto halal Pakistan, Arab, Korea, Malaysia dan Indonesia. Pilihan saya jatuh pada resto Murree Korea Muslim Food. Sayang sekali sudah jauh-jauh datang ke Korea jika tidak mencicipi makanan asli sana. Inilah penampakan menu yang kami pesan, shin ramyun KRW 8000, kimchi chi-gae KRW 10.000 dan nasi biryani (khas Timur Tengah) KRW 7.000. Membeli menu-menu tersebut kami diberi kimchi sawi putih, nori, asinan tofu dan teri wijen secara cuma-cuma.

DSC_0429 - Copy

DSC_0435

Satu lagi tempat menarik yang sebaiknya dikunjungi yaitu Namsan Seoul Tower. Untuk menuju ke sana, kami naik bus dengan tujuan Namsan. Lagi-lagi, beginilah view di dalam bus seperti yang ada di drama-drama Korea.

DSC_0446

Di gunung Namsan inilah lokasi N-tower di mana kita dapat melihat penjuru kota Seoul dari ketinggian. Di sana, ada beberapa bangku berbentuk mirip bangku patah dengan latar belakang pohon gembok cinta, pagar yang dipenuhi dengan gembok warna-warni beraneka bentuk, teropong, tempat makan dan gondola.

DSC_0466

DSC_0483

DSC_0499

Nah lho..yang gagal fokus ngeliatin oppa di sebelah saya hayo ngaku…!😀

Namsan tower akan terlihat jauh lebih indah pada malam hari karena akan berhiaskan beraneka warna cahaya.

DSC_0519

Berkunjung ke Korea tidak lengkap jika belum mencoba pakaian tradisional ala hwangthaeja jeona (Putra Mahkota) dan ala bigung mama (putri mahkota). Maka sebelum berangkat ke bandara, saya dan suami mengunjungi Seoul Global Culture and Tourism Center yang berlokasi di kawasan Myeongdong. Di sana kami dapat mencoba hanbok gratis.

IMG_0875

Yang terakhir sebagai penutup catatan perjalanan saya ke Seoul kali ini, saya sangat merekomendasikan Namdaemun Market sebagai tempat shopping dan berburu souvenir oleh-oleh. Berbagai jenis item dengan harga yang relatif murah akan Anda temukan di sana.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • [ It’s Me, AENI ]

    Meski hanya sebuah blog yang sederhana, namun dengan niat berbagi dan bertukar informasi tentang dunia Islam, Travelling dan Kriptografi, semoga bisa bermanfaat....

  • Blog Stats

    • 144,162 hits