5 Cara Mengendalikan Emosi dalam Islam

Sahabatku, Jangan Mudah Marah Karena Bagimu Surga….

Salah satu senjata setan untuk membinasakan manusia adalah marah. Dengan cara ini, setan bisa dengan sangat mudah mengendalikan manusia. Karena marah, orang bisa dengan mudah mengucapkan kalimat kekafiran, menggugat takdir, ngomong jorok, mencaci habis, bahkan sampai kalimat carai yang membubarkan rumah tangganya.

Karena marah pula, manusia bisa merusak semua yang ada di sekitarnya. Dia bisa banting piring, lempar gelas, pukul kanan-pukul kiri, bahkan sampai tindak pembunuhan. Di saat itulah, misi setan untuk merusak menusia tercapai.

Tentu saja, permasalahannya tidak selesai sampai di sini. Masih ada yang namanya balas dendam dari pihak yang dimarahi. Anda bisa bayangkan, betapa banyak kerusakan yang ditimbulkan karena marah.

Menyadari hal ini, islam sangat menekankan kepada umat manusia untuk berhati-hati ketika emosi. Banyak motivasi yang diberikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar manusia tidak mudah terpancing emosi. Diantaranya, beliau menjanjikan sabdanya yang sangat ringkas,

لا تغضب ولك الجنة

“Jangan marah, bagimu surga.” (HR. Thabrani dan dinyatakan shahih dalam kitab shahih At-Targhib no. 2749)

surga1

Allahu akbar, jaminan yang luar biasa. Surga..dihiasi dengan berbagai kenikmatan, bagi mereka yang mampu menahan amarah. Semoga ini bisa memotivasi kita untuk tidak mudah terpancing emosi.

Bagaimana Cara Mengendalikan Diri Ketika Sedang Emosi?

Agar kita tidak terjerumus ke dalam dosa yang lebih besar, ada beberapa cara mengendalikan emosi yang diajarkan dalam Al-Quran dan Sunah. Semoga bisa menjadi obat mujarab bagi kita ketika sedang marah.

Pertama, segera memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan, dengan membaca ta’awudz:

أعوذُ بالله مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجيمِ

A-‘UDZU BILLAHI MINAS SYAITHANIR RAJIIM

Karena sumber marah adalah setan, sehingga godaannya bisa diredam dengan memohon perlindungan kepada Allah.

Dari sahabat Sulaiman bin Surd radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

Suatu hari saya duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu ada dua orang yang saling memaki. Salah satunya telah merah wajahnya dan urat lehernya memuncak. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِني لأعلمُ كَلِمَةً لَوْ قالَهَا لذهبَ عنهُ ما يجدُ، لَوْ قالَ: أعوذُ بالله مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجيمِ، ذهب عَنْهُ ما يَجدُ

Sungguh saya mengetahui ada satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang. Jika dia membaca ta’awudz: A’-uudzu billahi minas syaithanir rajiim, marahnya akan hilang. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang marah, kemudian membaca: A-‘udzu billah (saya berlindung kepada Allah) maka marahnya akan reda.” (Hadis shahih – silsilah As-Shahihah, no. 1376)

Kedua, DIAM dan jaga lisan

Bawaan orang marah adalah berbicara tanpa aturan. Sehingga bisa jadi dia bicara sesuatu yang mengundang murka Allah. Karena itulah, diam merupakan cara mujarab untuk menghindari timbulnya dosa yang lebih besar.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ

“Jika kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad dan Syuaib Al-Arnauth menilai Hasan lighairih).

Ucapan kekafiran, celaan berlebihan, mengumpat takdir, dst., bisa saja dicatat oleh Allah sebagai tabungan dosa bagi ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

إِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ، مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا، يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ المَشْرِقِ

Sesungguhnya ada hamba yang mengucapkan satu kalimat, yang dia tidak terlalu memikirkan dampaknya, namun menggelincirkannya ke neraka yang dalamnya sejauh timur dan barat. (HR. Bukhari dan Muslim)

Di saat kesadaran kita berkurang, di saat nurani kita tertutup nafsu, jaga lisan baik-baik, jangan sampai lidah tak bertulang ini, menjerumuskan anda ke dasar neraka.

Ketiga, mengambil posisi lebih rendah

Kecenderungan orang marah adalah ingin selalu lebih tinggi.. dan lebih tinggi. Semakin dituruti, dia semakin ingin lebih tinggi. Dengan posisi lebih tinggi, dia bisa melampiaskan amarahnya sepuasnya.

Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan saran sebaliknya. Agar marah ini diredam dengan mengambil posisi yang lebih rendah dan lebih rendah. Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatkan,

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ

Apabila kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaknya dia duduk. Karena dengan itu marahnya bisa hilang. Jika belum juga hilang, hendak dia mengambil posisi tidur. (HR. Ahmad 21348, Abu Daud 4782 dan perawinya dinilai shahih oleh Syuaib Al-Arnauth).

Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, sahabat yang meriwayatkan hadis ini, melindungi dirinya ketika marah dengan mengubah posisi lebih rendah. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya, dari Abul Aswad Ad-Duali, beliau menceritakan kejadian yang dialami Abu Dzar,

“Suatu hari Abu Dzar mengisi ember beliau. Tiba-tiba datang beberapa orang yang ingin mengerjai Abu Dzar. ‘Siapa diantara kalian yang berani mendatangi Abu Dzar dan mengambil beberapa helai rambutnya?’ tanya salah seorang diantara mereka. “Saya.” Jawab kawannya.

Majulah orang ini, mendekati Abu Dzar yang ketika itu berada di dekat embernya, dan menjitak kepala Abu Dzar untuk mendapatkan rambutnya. Ketika itu Abu Dzar sedang berdiri. Beliaupun langsung duduk kemudian tidur.

Melihat itu, orang banyak keheranan. ‘Wahai Abu Dzar, mengapa kamu duduk, kemudian tidur?’ tanya mereka keheranan.

Abu Dzar kemudian menyampaikan hadis di atas. Subhanallah.., demikianlah semangat sahabat dalam mempraktekkan ajaran nabi mereka.

Mengapa duduk dan tidur?

Al-Khithabi menjelaskan,

القائم متهيئ للحركة والبطش، والقاعد دونه في هذا المعنى، والمضطجع ممنوع منهما، فيشبه أن يكون النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إنما أمره بالقعود لئلا تبدر منه في حال قيامه وقعوده بادرة يندم عليها فيما بعدُ

Orang yang berdiri, mudah untuk bergerak dan memukul, orang yang duduk, lebih sulit untuk bergerak dan memukul, sementara orang yang tidur, tidak mungkin akan memukul. Seperti ini apa yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perintah beliau untuk duduk, agar orang yang sedang dalam posisi berdiri atau duduk tidak segera melakukan tindakan pelampiasan marahnya, yang bisa jadi menyebabkan dia menyesali perbuatannya setelah itu. (Ma’alim As-Sunan, 4/108)

Keempat, Ingatlah hadis ini ketika marah

Dari Muadz bin Anas Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَظَمَ غَيْظاً وَهُوَ قادرٌ على أنْ يُنفذهُ دعاهُ اللَّهُ سبحانهُ وتعالى على رءوس الخَلائِقِ يَوْمَ القيامةِ حتَّى يُخيرهُ مِنَ الحورِ العين ما شاءَ

“Siapa yang berusaha menahan amarahnya, padahal dia mampu meluapkannya, maka dia akan Allah panggil di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, sampai Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang dia kehendaki. (HR. Abu Daud, Turmudzi, dan dihasankan Al-Albani)

Subhanallah.., siapa yang tidak bangga ketika dia dipanggil oleh Allah di hadapan semua makhluk pada hari kiamat, untuk menerima balasan yang besar? Semua manusia dan jin menyaksikan orang ini, maju di hadapan mereka untuk menerima pahala yang besar dari Allah ta’ala. Tahukah anda, pahala ini Allah berikan kepada orang yang hanya sebatas menahan emosi dan tidak melampiaskan marahnya. Bisa kita bayangkan, betapa besar pahalanya, ketika yang dia lakukan tidak hanya menahan emosi, tapi juga memaafkan kesalahan orang tersebut dan bahwa membalasnya dengan kebaikan.

Mula Ali Qori mengatakan,

وَهَذَا الثَّنَاءُ الْجَمِيلُ وَالْجَزَاءُ الْجَزِيلُ إِذَا تَرَتَّبَ عَلَى مُجَرَّدِ كَظْمِ الْغَيْظِ فَكَيْفَ إِذَا انْضَمَّ الْعَفْوُ إِلَيْهِ أَوْ زَادَ بِالْإِحْسَانِ عَلَيْهِ

Pujian yang indah dan balasan yang besar ini diberikan karena sebatas menahan emosi. Bagaimana lagi jika ditambahkan dengan sikap memaafkan atau bahkan membalasnya dengan kebaikan. (Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan Turmudzi, 6/140).

Satu lagi, yang bisa anda ingat ketika marah, agar bisa meredakan emosi anda:

Hadis dari Ibnu Umar,

من كف غضبه ستر الله عورته ومن كظم غيظه ولو شاء أن يمضيه أمضاه ملأ الله قلبه يوم القيامة رضا

Siapa yang menahan emosinya maka Allah akan tutupi kekurangannya. Siapa yang menahan marah, padahal jika dia mau, dia mampu melampiaskannya, maka Allah akan penuhi hatinya dengan keridhaan pada hari kiamat. (Diriwayatkan Ibnu Abi Dunya dalam Qadha Al-Hawaij, dan dinilai hasan oleh Al-Albani).

Ya, tapi yang sulit bukan hanya itu. Ada satu keadaan yang jauh lebih sulit untuk disuasanakan sebelum itu, yaitu mengkondisikan diri kita ketika marah untuk mengingat balasan besar dalam hadis di atas. Umumnya orang yang emosi lupa segalanya. Sehingga kecil peluang untuk bisa mengingat balasan yang Allah berikan bagi orang yang bisa menahan emosi.

Siapakah kita dibandingkan Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu. Sekalipun demikian, beliau terkadang lupa dengan ayat dan anjuran syariat, ketika sudah terbawa emosi.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan bahwa ada seseorang yang minta izin kepada Khalifah Umar untuk bicara. Umarpun mengizinkannya. Ternyata orang ini membabi buta dan mengkritik habis sang Khalifah.

‘Wahai Ibnul Khattab, demi Allah, kamu tidak memberikan pemberian yang banyak kepada kami, dan tidak bersikap adil kepada kami.”

Mendengar ini, Umarpun marah, dan hendak memukul orang ini. Sampai akhirnya Al-Hur bin Qais (salah satu teman Umar) mengingatkan,

‘Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah berfirman kepada nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya): ‘Berikanlah maaf, perintahkan yang baik, dan jangan hiraukan orang bodoh.’ dan orang ini termasuk orang bodoh.’

Demi Allah, Umar tidak jadi melampiaskan emosinya ketika mendengar ayat ini dibacakan. Dan dia adalah manusia yang paling tunduk terhadap kitab Allah. (HR. Bukhari 4642).

Yang penting, anda jangan berputus asa, karena semua bisa dilatih. Belajarlah untuk mengingat peringatan Allah, dan ikuti serta laksanakan. Bisa juga anda minta bantuan orang di sekitar anda, suami, istri, anak anda, pegawai, dan orang di sekitar anda, agar mereka segera mengingatkan anda dengan janji-janji di atas, ketika anda sedang marah.

Pada kasus sebaliknya, ada orang yang marah di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliaupun meminta salah satu sahabat untuk mengingatkannya, agar membaca ta’awudz, A-‘udzu billahi minas syaithanir rajim..

وَقَالَ: له أحد الصحابة «تَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ» فَقَالَ: أَتُرَى بِي بَأْسٌ، أَمَجْنُونٌ أَنَا، اذْهَب

“Salah satu temannya mengingatkan orang yang sedang marah ini: ‘Mintalah perlindungan kepada Allah dari godaan setan!’ Dia malah berkomentar: ‘Apakah kalian sangka saya sedang sakit? Apa saya sudah gila? Pergi sana!’ (HR. Bukhari 6048).

Kelima, Segera berwudhu atau mandi

Marah dari setan dan setan terbuat dari api. Padamkan dengan air yang dingin.

Terdapat hadis dari Urwah As-Sa’di radhiyallahu ‘anhu, yang mengatakan,

إِنَّ الْغَضَبَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنْ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ

Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api bisa dipadamkan dengan air. Apabila kalian marah, hendaknya dia berwudhu. (HR. Ahmad 17985 dan Abu Daud 4784)

Dalam riwayat lain, dari Abu Muslim Al-Khoulani, beliau menceritakan,

Bahwa Amirul Mukminin Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu pernah berkhutbah di hadapan masyarakat. Dan ketika itu, gaji pegawai belum diserahkan selama dua atau tiga bulan. Abu Muslim-pun berkata kepada beliau,

‘Hai Muawiyah, sesungguhnya harta itu bukan milikmu, bukan milik bapakmu, bukan pula milik ibumu.’

Mendengar ini, Muawiyah meminta hadirin untuk diam di tempat. Beliau turun dari mimbar, pulang dan mandi, kemudian kembali dan melanjutkan khutbahnya,

‘Wahai manusia, sesungguhnya Abu Muslim menyebutkan bahwa harta ini bukanlah milikku, bukan milik bapakku, bukan pula milik ibuku. Dan Abu Muslim benar. kemudian beliau menyebutkan hadis,

الغضب من الشيطان ، والشيطان من النار ، والماء يطفئ النار ، فإذا غضب أحدكم فليغتسل

Marah itu dari setan, setan dari api, dan air bisa memadamkan api. Apabila kalian marah, mandilah.

Lalu Muawiyah memerintahkan untuk menyerahkan gaji mereka.

(HR. Abu Nuaim dalam Hilyah 2/130, dan Ibnu Asakir 16/365).

Dua hadis ini dinilai lemah oleh para ulama. Hadis pertama dinilai lemah oleh An-Nawawi sebagaimana keterangan beliau dalam Al-Khulashah (1/122). Syuaib Al-Arnauth dalam ta’liq Musnad Ahmad menyebutkan sanadnya lemah. Demikian pula Al-Albani menilai sanadnya lemah dalam Silsilah Ad-Dhaifah no. 581.

Hadis kedua juga statusnya tidak jauh beda. Ulama pakar hadis menilainya lemah. Karena ada perowi yang bernama Abdul Majid bin Abdul Aziz, yang disebut Ibnu Hibban sebagai perawi Matruk (ditinggalkan).

Ada juga ulama yang belum memastikan kelemahan hadis ini. Diantaranya adalah Ibnul Mundzir. Beliau mengatakan,

إن ثبت هذا الحديث فإنما الأمر به ندبا ليسكن الغضب ، ولا أعلم أحدا من أهل العلم يوجب الوضوء منه

Jika hadis ini shahih, perintah yang ada di dalamnya adalah perintah anjuran untuk meredam marah dan saya tidak mengetahui ada ulamayang mewajibkan wudhu ketika marah. (Al-Ausath, 1/189).

Karena itulah, beberapa pakar tetap menganjurkan untuk berwudhu, tanpa diniatkan sebagai sunah. Terapi ini dilakukan hanya dalam rangka meredam panasnya emosi dan marah. Dr. Muhammad Najati mengatakan,

يشير هذا الحديث إلى حقيقة طبية معروفة ، فالماء البارد يهدئ من فورة الدم الناشئة عن الانفعال ، كما يساعد على تخفيف حالة التوتر العضلي والعصبي ، ولذلك كان الاستحمام يستخدم في الماضي في العلاج النفسي

Hadis ini mengisyaratkan rahasia dalam ilmu kedokteran. Air yang dingin, bisa menurunkan darah bergejolak yang muncul ketika emosi. Sebagaimana ini bisa digunakan untuk menurunkan tensi darah tinggi. Karena itulah, di masa silam, terapi mandi digunakan untuk terapi psikologi.

(Hadis Nabawi wa Ilmu An-Nafs, hlm. 122. dinukil dari Fatwa islam, no. 133861)

اَللَّهُمَّ نَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الحَقِّ فِي الرِضَا وَالغَضَبِ

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kalimat haq ketika ridha (sedang) dan marah

[Doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalatnya – shahih Jami’ As-Shaghir no. 3039]

Dikutip dari tulisan ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Akibat Banyak Tertawa

Dalam satu keterangan dikatakan bahwa orang yang banyak tertawa akan disiksa dengan sepuluh macam siksaan yaitu:

 

1). Hati akan mati

2). Tidak punya rasa malu

3). Disenangi oleh syaitan

4). Dibenci oleh Allah Yang Maha Penyayang

5). Dihisab pada hari kiamat

6). Dikutuk oleh malaikat

7). Dibenci oleh ahli langit dan bumi

8). Lalai dalam banyak hal

9). Nabi akan berpaling padanya

10). Akan mendapat rasa malu

Tertawanya Rasulullah SAW adalah berupa senyuman. Kalau pun lebih dari gambaran senyuman, maka gusi beliau kelihatan ketika tertawa, dan itu merupakan tertawa yang merupakan karisma (keperibadian), tidak mengeluarkan suara, terbahak-bahak atau sejenisnya.

Daripada Aisyah r.a., dia berkata: “Sekali pun aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW berlebih-lebihan ketika tertawa hingga aku lihat anak lidahnya. Tertawa beliau hanya berupa senyuman.” (HR Bukhari & Muslim). Daripada Abu Dzar r.a., dia berkata: “Rasulullah SAW tidak pernah tertawa selain daripada senyuman” (HR Muslim & Ahmad).

Daripada Abu Hurairah r.a., bersabda Rasulullah SAW: “Jangan kalian banyak tertawa, kerana banyak tertawa itu mematikan hati.” Rasulullah SAW juga bersabda: “Jika kamu tahu apa yang aku tahu niscaya kamu banyak menangis dan sedikit tertawa.” Sabdanya lagi: “Siapa yang berbuat dosa dalam tertawa, akan dicampakkan ke neraka dalam keadaan menangis”.

Hassan al-Banna juga pernah berpesan: “Janganlah banyak tertawa, kerana hati yang sentiasa berhubung dengan Allah itu, selalunya tenang dan tenteram.” Pesannya lagi: “Janganlah bergurau, kerana umat yang sedang berjuang itu tidak mengerti melainkan bersungguh-sungguh dalam sembarang perkara. Tertawa yang berlebihan tanda lalai dan kejahilan. Tertawa seorang ulama dunia hilang ilmu, hilang wibawanya. Tertawa seorang jahil, semakin keras hati dan perasaannya”.

Seorang Hukama pernah bersyair: “Aku hairan dan pelik, melihat orang tertawa kerana perkara-perkara yang akan menyusahkan, lebih banyak daripada perkara yang menyenangkan.” Golongan salafussalih menangis walaupun banyak beramal, takut tidak diterima ibadahnya, Kita tertawa walaupun sadar diri kosong dari amalan.

Tanyailah orang-orang salih mengapa dia tidak berhibur: “Bagaimana hendak bergembira sedangkan mati itu di belakang kami, kubur di hadapan kami, kiamat itu janjian kami, neraka itu memburu kami dan perhentian kami ialah ALLAH”.

Ref: http://tigosotigo.blogspot.com/

Salah Kaprah di bulan Ramadhan

Banyak orang yang bilang bahwa Ramadhan diartikan sebagai bulan yang suci, padahal sebenarnya Ramadhan adalah bulan yang penuh kemuliaan, penuh berkah dan maghfirah (keampunan). OK, ga terlalu masalah..

Tapi yang sebenarnya pengen saya bahas disini adalah tradisi ngabuburit dan buka bersama (sebelumnya maaf ya, bukan maksud untuk menggurui..^^v).

Banyak yang ngisi waktu menunggu buka pake istilah ngabuburit. Tapi ngabuburitnya kayak apa sih…

Hmm..ternyata banyak yang ngisi waktu menunggu berbuka dengan jalan-jalan, belanja di mall, ngrumpi bareng teman, nonton TV, atau tidur seharian. Nah lho, tau ga sih kalo kayak gitu ada manfaatnya tidak? Dapat pahala Ramadhan tidak? Tentu saja belum tentu iya jawabannya. Jalan-jalan atau belanja di mall bisa saja diganti dengan tadarus Al Qur’an. Targetkan selama Ramadhan harus khatam Al Qur’an berapa kali (Inget, satu hurfu  saja dah 10 pahala lho…! Apalagi pahala di bulan Ramadhan itu berkali-kali lipatnya ibadah di hari-hari biasa selain Ramadhan,,). Trus kalo ngabuburit dengan cara ngobrol bareng teman, bisa-bisa malah jadi ghibah (ngomongin orang). Bukannya dapat pahala tapi malah dapet dosa. Orang yang menggosip tu oleh Rasul dikatakan seperti memakan bangkai saudaranya sendiri. Makan bangkai saudaranya sendiri aja ga mau… OK lah, kalau begitu yuk sama2 memperbaiki diri di bulan Ramadhan ini, supaya nanti seusai Ramadhan kita bisa “LULUS” ujian bulan RamadhanNya dengan predikat “sangat memuaskan” dan bisa mengantar kita menjadi manusia yang lebih baik untuk selanjutnya.

Oya, satu lagi. Berbuka puasa bareng2 ga masalah. Asalkan…1) Niat buber-nya jangan buat pesta makan2 tapi buat memperat tali silaturahmi, 2) Jangan makan berlebihan, tetapi secukupnya, 3) Jangan berbuka terlalu lama supaya tidak ketinggalan sholat Maghrib. Nah lho, mumpung masih kumpul2, ajaklah ke dalam kebaikan. Ngajak sholat Maghrib berjama’ah kan lebih indah..) Udah kenyang, udah sholat Maghrib?? Habis itu pulang ya? Tapi jangan lupa sholat terawih  ya… (biasanya nih, mentang-mentang pulangnya jauh, trus gara-gara pas nyampe waktu sholat isya belum nyampe rumah trus pas udah nyampe rumah kecapekan, malah akhirnya ga sholat terawih. (masih mending sih kalo ga sholat terawih tapi sholat Isya’nya tetep dilaksanakan)). Makanya, kalo bisa waktu buber tuh dilanjutkan dengan sholat Maghrib, Isa’ sampai terawihnya. Habis itu baru pulang…!~_^

OK, cukup sekian. Semoga bermanfaat. Amin….

Our Fiqih<<<Understand Islam…….

 

He is Allah..

The First: Nothing is before Him.
The Last: Nothing is After Him.
The Most High: Nothing is Above Him.
The Most Near: Nothing is beyond His Reach.
He Begets Not, Nor was He Begotten.
The Creator, Provider, and All-Rich.
The All-Seer, The All-Knower.
He is One and Self-Sufficient.
He is not Nature, or any part of it.
He ascended above His Throne, High above the Seven Skies.
No Vision can encompass Him, but
His Grasp is over all vision…

Keutamaan Sholat Subuh (Part 1)

Artikel ini sekedar berbagi dengan rekan-rekan sekalian tentang salah satu buku yang pernah saya baca. Tak sengaja ketika berkunjung ke kamar teman (kebetulan masih di asrama) saya melihat buku karya DR. Raghib As-Sirjani yang berjudul Misteri Shalat Subuh. Iseng-iseng saya numpang baca, dan Subhanallah sekali, benar-benar buku yang sangat menakjubkan. Baru membaca beberapa halaman awal saja sudah seperti membaca sebuah buku. Buku ini memberikan gambaran secara lengkap mengenai keutamaan sholat Subuh (juga sholat-sholat lainnya). Benar-benar syarat makna dan menggugah semangat untuk selalu menjaga sholat kita, terutama sholat Subuh. Nah, berikut ini saya tuliskan resensi dari buku tersebut dan saya rekomendasikan kepada rekan-rekan pengunjung blog untuk segera memiliki, membaca dan memahami buku ini. Bahasanya bagus, meskipun hasil terjemahan namun mudah dipahami oleh orang awam sekalipun.

MISTERI SHALAT SUBUH

Seorang penguasa Yahudi berkata, “Kami baru takut kepada umat Islam jika mereka telah melaksanakan sholat Subuh seperti melaksanakan sholat Jumat. Ialah bila jumlah jamaah sholat Subuh mencapai jumlah jamaah sholat Jumat”.

Di balik pelaksanaan dua rakaat di ambang fajar, tersimpan rahasia yang menakjubkan. Banyak permasalahan, yang jika dirunut, bersumber dari pelaksanaan sholat Subuh yang disepelekan. Itu sebabnya, para sahabat Nabi berusaha sekuat tenaga agar tidak kehilangan waktu emas itu. Pernah suatu ketika mereka terlambat sholat Subuh dalam penaklukan benteng Tastar. Tragedi ini membuat shahabat semisal Anas bin Malik selalu menangis bila mengenangnya.

Yang menarik, ternyata Subuh juga menjadi waktu peralihan dari era jahiliyyah menuju era tauhid. Kaum Ad, Tsamud, dan kaum pendurhaka lainnya, dilibas petaka pada waktu Subuh–yang menandai berakhirnya dominasi jahiliyyah dan munculnya cahaya tauhid.

Buku ini mencoba menganalisis bahwa keterpurukan umat Islam dewasa ini tak lepas dari akibat diremehkannya sholat Subuh. Bagaimana alur logikanya? DR. Raghib As-Sirjani mengulasnya tuntas dalam buku ini. Keluasan wawasan sang penulis (dilihat dari bibliografinya), ditambah kedalaman pengetahuannya tentang nash-nash syar’i, menyadarkan kepada kita ihwal keistimewaan sholat Subuh yang selama ini kurang banyak dimengerti oleh umat Islam. Tak lupa beliau tuliskan tips-tips praktis agar mudah melaksanakan sholat Subuh.

Sholat Subuh…

Inilah ujian yang sesungguhnya. Nilai tertinggi dalam ujian ini — bagi seorang laki-laki — adalah sholat Subuh secara berjamaah di masjid. Sedangkan bagi perempuan, sholat Subuh tepat pada waktunya di rumah. Rasulullah telah membuat klasifikasi yang beliau jadikan sebagai tolok ukur untuk membedakan antara orang mukmin dengan orang munafik. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya sholat yang paling berat bagi orang munafik adalah sholat Isya’ dan sholat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung di dalamnya, niscaya mereka akan mendatangi keduanya sekalipun dengan merangkak. Sungguh, aku ingin menyuruh melaksanakan sholat, lalu sholat itu ditegakkan, kemudian aku perintahkan seseorang untuk mengimami sholat bersama orang-orang. Kemudian beberapa lelaki berangkat bersamaku dengan membawa kayu yang terikat, mendatangi suatu kaum yang tidak menghadiri sholat berjamaah, sehingga aku bakar rumah mereka” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Apabila Rasulullah meragukan keimanan seseorang, beliau akan menelitinya pada sholat Subuh, maka benarlah apa yang beliau ragukan dalam hati. Ubai bin Ka’ab r.a berkata, “Suatu ketika saat Rasulullah sholat Subuh, beliau bertanya, ‘Apakah kalian menyaksikan bahwa si Fulan sholat?’, Mereka menjawab, ‘Tidak’. Beliau berkata lagi, ‘Si Fulan?’, Mereka menjawab, ‘Tidak’. Maka beliau pun bersabda: “Sesungguhnya dua sholat ini (Subuh dan Isya’) adalah sholat yang berat bagi orang munafik. Sesungguhnya apabila mereka mengetahui apa yang terkandung di dalamnya, niscaya mereka akan mendatangi keduanya sekalipun dengan merangkak”. (HR Ahmad dan An-Nasa’i).

Maka jelaslah bahwa sholat Subuh merupakan sholat wajib yang paling sedikit jumlah rakaatnya, namun ia menjadi standar keimanan seseorang dan ujian terhadao kejujuran, karena waktunya sangat sempit (karena waktu sholat Subuh itu mulai dari waktu terbit fajar hingga matahari terbit saja).

Bagi laki-laki dianggap sukses melewati ujian ini jika malaksanakan sholat Subuh berjamaah di masjid tepat pada waktunya. Lain halnya dengan perempuan, meskipun sholat Subuh berjamaah di masjid diperbolehkan namun lebih utama sholat di rumahnya dan lebih besar pahalanya. Dadlam hadist Ummu Hamid As-Sa’idiyyah. Ummu Hamid mendatangi Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya sangat menyukai sholat bersama Anda”. Rasulullah pun bersabda: “Engkau telah mengetahui. Sholatmu di bilikmu lebih baik daripada sholatmu di kamarmu. Sholatmu di kamarmu lebih baik daripada sholatmu di (ruang yang lebih luas) rumahmu. Sholatmu di rumahmu itu lebih baik daripada sholatmu di masjid kaummu. Sholatmu di masjid kaummu lebih baik daripada sholatmu di masjid raya. Dan besarnya pahala sholat seorang wanita di rumahnya merupakan rahmat Allah baginya dan bagi masyarakat” (HR Ahmad — dengan sanad hasan — dan Ath-Thabrani). Sholat di rumah merupakan rahmat Allah bagi wanita sekaligus masyarakat dengan tujuan untuk menghindari fitnah (kerusakan), lebih menjaga wanita dan melindunginya. Wanita muslimah adalah mereka yang mengeejakan sholat Subuh ketika para pria sedang sholat di masjid (sholat yang tepat waktu).

Abdullah bon Mas’ud pernah bertanya kepada Rasulullah tentang amal yang paling dicintai Allah. Rasul pun menjawab sebagaimana disebutkan di dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim: “Amal yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah sholat (tepat) pada waktunya”, kemudian baru disusul amalan berbuat baik kepada kedua orang tua dan jihad fi sabilillah.

Merenung Sejenak

Mari kita renungkan sejenak:

  • Banyak event yang terjadi di dunia ini. Apakah perhatian kita tertuju pada Piala Dunia yang membuat kita bersorak sorai ataukah memilih peduli pada rakyat Palestina yang kini berteriak menyuarakan hak-hak hidupnya sebagai manusia?
  • Merelakan waktu tidur malam kita untuk begadang. Untuk membaca ayat-ayatNya ataukah untuk sekedar menonton film kesayangan kita?
  • Meskipun mengantuk, tapi kita relakan mata untuk terbuka. Bangun di tengah malam untuk melaksanakan sholat malam (tahajjud) kah, atau sekedar untuk menonton Piala Dunia?
  • Banyak waktu santai yang kita miliki dan berencana untuk pergi keluar. Untuk datang di acara kajian Islam ataukah pergi ke pantai, touring bersama kawan-kawan, wisata kuliner?
  • Banyak rizki yang kita miliki, hidup berkecukupan. Apakah kita akan menghabiskan uang untuk mentraktir kawan ke restoran-restoran mewah dan membuat acara-acara pesta, ataukah memilih untuk mensedekahkan untuk membantu orang miskin, yatim piatu dan tetangga-tetangga kita yang membutuhkan?
  • Saat ini, kita mungkin lebih mengenal sosok pemain di dalam Piala Dunia, tapi apakah kita sudah jauh mengenal sosok Nabi dan Rasul kita?
  • Mungkin sekarang kita pernah menyesali kekalahan tim Piala Dunia kesayangan kita, menggerutu, berkelahi atau bahkan konyolnya bunuh diri. Tapi apakah kita pernah merenungi kesalahan dan dosa kita selama satu tahun ini?

Apakah Seseorang Memiliki Kesempatan untuk Memperbaiki Amal Setelah Melihat Akhirat?

Pada hari itu, tidak ada peluang untuk memperbaiki amal. Meyakini setelah kematian adalah hal yang sia-sia. Al-Qur’an pun menyebutkan bahwa pada hari perhitungan, orang-orang kafir akan memohon agar diberi kesempatan untuk mengerjakan kewajibannya. Namun permintaan mereka tak akan diterima. Mereka berharap dapat kembali ke dunia, tetapi permintannya ditolak. Setelah menyadari tak ada peluang untuk menebus dosa, mereka sangat menyesal. Keputusasaan dan penyesalan yang bercampur merupakan perasaan yang menyiksa tiada bandingannya di dunia ini. Mereka sadar akan mendapat hukuman yang kekal di akhirat, tanpa sedikitpun peluang untuk menghindar:

Dan jika kamu melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, mereka berkata: ‘Kalau saja kami dikembalikan ke dunia, kami tak akan mengingkari ayat-ayat Tuhan kami serta menjadi orang-orang yang beriman.’ Tidak, telah nyata bagi mereka kejahatan yang dahulu selalu mereka sembunyikan. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, mereka akan kembali kepada perbuatan yang dilarang bagi mereka. Dan sesungguhnya mereka itu pendusta-pendusta belaka. Dan mereka akan berkata, ‘Kehidupan itu hanya di dunia saja dan kita sekali-kali tak akan dibangkitkan kembali.’ Dan seandainya kamu melihat ketika mereka dihadapakan kepada Tuhan mereka. Allah berfirman, ‘Bukankah kebangkitan ini benar?’ Mereka berkata, ‘Sungguh benar, demi Tuhan kami!’ Allah berfirman, “Karena itu rasakanlah azab ini, karena kamu mengingkarinya”.’ (Surat Al-An’am: 27-30)

Source: Yahya Harun. Cara Cepat Mendapatkan Keimanan.pdf.

  • [ It’s Me, AENI ]

    Meski hanya sebuah blog yang sederhana, namun dengan niat berbagi dan bertukar informasi tentang dunia Islam, Travelling dan Kriptografi, semoga bisa bermanfaat....

  • Blog Stats

    • 161,047 hits