Ketinggalan Pesawat!

Artikel ini kurang lebihnya membahas sharing pengalaman saya pribadi, harapannya bisa menjadi pembelajaran. Ketinggalan pesawat berdampak rugi waktu, energi dan biaya tentunya. Banyak faktor yang menyebabkan ketinggalan pesawat, baik yang dapat diprediksi ataupun tidak dapat diprediksi, dan ini harus diantisipasi.

1. Jalan Macet atau Antrian Panjang Check In

Yup seperti yang kita ketahui, lalu lintas di Jakarta cukup padat sehingga ketika akan menuju bandara kita harus menyediakan spare waktu supaya sampai di bandara minimal satu jam sebelum keberangkatan. Kemacetan Jakarta atau kota besar lainnya tidak dapat diprediksi. Saya pun pernah berangkat ke bandara Soekarno-Hatta dengan spare waktu 3 jam dari waktu keberangkatan pesawat, salah ambil jalur dan itu sungguh macet. Sesampainya di bandara, antrian panjang check in pun tidak dapat dihindari karena saat itu adalah bulan-bulan menjelang akhir tahun. Beberapa bulan menjelang akhir tahun memang merupakan waktu terpadat bandara Soetta menurut sepengetahuan saya. Seharusnya saat itu masih memungkinkan untuk tetap bisa boarding andaikan saya sudah melakukan check in online, sayangnya saat itu saya belum melakukan check in online sehingga harus melalui counter check in biasa. Alhasil saat sudah berada di loket check in, petugas menolak saya karena sudah tutup waktu check in. Beruntung maskapai yang akan saya tumpangi berbaik hati untuk memberikan alternatif. Karena penerbangan ke tujuan saya hari itu sudah tidak ada, maka customer service manawarkan saya untuk ganti pesawat dari maskapai lain atau menunggu jadwal penerbangan awal esok harinya. Saya memilih ganti jadwal pesawat esok hari. Konsekuensi pilihan ini adalah jika harga tiket pengganti lebih mahal maka kita harus membayar selisih lebih dari harga tiket pesawat sebelumnya. Beruntung saat itu saya tidak harus membayar selisih, namun jelas saya sudah rugi waktu. Menunggu sampai besok pagi maka saya memilih untuk pulang ke rumah dan kembali lagi keesokan harinya.

2. Kepadatan Jalan Saat Masa Mudik Hari Raya

Siapa sangka seluruh kendaraan plat B akan memenuhi jalanan kota Jogja. Bahkan saat itu kemacetan Jogja lebih parah dibandingkan kemacetan Jakarta di hari kerja. Karena yakin akan terlambat tiba di bandara, maka saya dan suami mencoba menelepon customer service maskapai yang akan saya tumpangi. Berulang kali menelepon tapi tak ada respon, pihak travel pun juga tidak dapat berbuat apa-apa. Saat itu yang ada di pikiran saya, “Maskapai macam apa ini, customer service di siang bolong kok ngga bisa dihubungi…”.

Well, waktu tempuh ke bandara yang seharusnya hanya 1 jam molor menjadi 3 jam. Amazing!. Sampai di bandara sudah tinggal 5 menit lagi dari waktu keberangkatan pesawat, jelas saat itu pintu pesawat sudah ditutup. Sudah tentu kami pasrah dan bersiap untuk berburu tiket pengganti sambil membayangkan bahwa betapa sulitnya mencari tiket saat masa-masa mudik. Dengan muka pasrah kami mendatangi counter check in yang saat itu sudah sepi, dan petugas pun langsung tersenyum kepada saya dan suami “masih rejekinya ya, Bu”. Saya langsung berasumsi bahwa pesawat delay, dan alhamdulillah memang benar pesawat delay selama 45 menit karena keterlambatan terbang dari tempat bertolaknya di Jakarta.

3. Lokasi Baru, Lupa Waktu, Salah Prediksi Waktu, Over PD

Ini terjadi saat saya dan suami travelling ke luar negeri. Tak perlu disebutkan lah dimananya. Yang jelas beberapa jam sebelum menuju bandara saya mampir ke pasar souvenir. Yah namanya juga emak-emak, kalau lagi belanja bisa lupa waktu. Sibuk pilih oleh-oleh dan bandingin harga, sampai-sampai tidak memperhitungkan waktu tempuh ke bandara. Asumsi saya di dekat area publik pasti ada stasiun kereta cepat, namun rupanya kami tak kunjung menemukannya. Kami berjalan tak tahu harus kemana dan bertanya kesana kemari, itu cukup membuang banyak waktu. Ditambah lagi, kami salah memilih kereta cepat menuju bandara. Jadi saat itu ada dua jenis kereta ke bandara, ada yang express (berhenti di setiap stasiun) dan super express (langsung ke bandara tanpa berhenti di stasiun-stasiun kecil). Saya dan suami terlanjur masuk kereta express.

Tak usai sampai di situ, turun dari kereta kami masih disibukkan mencari lokasi check in di bandara yang begitu luasnya.

(FYI, luas bandara di luar negeri memang tidak bisa dibandingkan dengan luas bandara Soekarno-Hatta sekalipun, sudah begitu dari lokasi check in ke lokasi boarding masih harus naik kereta cepat bandara. Hadeh..hadeh..kebayang kan, dari lokasi check in ke lokasi boarding saja harus naik kereta cepat, berarti bandaranya luas bingits.)

Setelah mengikuti papan pengumuman dan papan petunjuk jalan, akhirnya ketemu counter check in yang letaknya nyaris di ujung. Apesnya counter check in sudah sepi. Fix ketinggalan pesawat, akhirnya saya dan suami muterin bandara mencari lokasi kantor maskapai. Di sana kami membeli tiket baru, dan bisa ditebak…harga tiket penerbangan internasional sudah tentu mahal. Tiga kali harga tiket yang saya beli, saudara-saudara… Kalo dipikir-pikir uang segitu mah bisa buat sekali jalan-jalan ke luar negeri lagi. Tapi ya balik lagi, satu-satunya yang terpikirkan saat itu yang penting bisa balik ke tanah air dan ke rumah tercinta, karena esok harinya harus kerja.

Jadi benar ya, terbukti sudah bahwa: Time is money!

 

Iklan

Analogi Ibadah dalam Implementasi Perangkat Wireless Technology

Sekedar berbagi kepada para pembaca…

Terkadang kita melupakan bahwa segala sesuatu ilmu tidak terlepas dari ilmuNya. Ilmu Allah memang maha luas. Tak ada yang bisa menghitung ilmu-ilmu yang telah diberikanNya kepada seluruh umat manusia tanpa pandang siapa Tuhan yang disembahnya. Meski manusia tersebut ingkar terhadap Allah, namun Allah Maha Adil sehingga diberikan pula ilmu padanya. Begitulah prinsip “lakum dinukum waliyadin” yang telah diajarkan olehNya. Hanya saja yang disayangkan adalah terkadang manusia menyalahgunakan akal dan ilmu yang telah diberikanNya untuk kejahatan, untuk mendzalimi sesamanya. Bahkan tak tanggung-tanggung manusia yang telah diberi akal olehNya tersebut mempergunakan ilmuNya untuk menentang Allah. Na’udzubillahi min dzalik….

Kita sebagai Muslim, sudah seharusnya bersyukur atas segala ilmu yang telah diberikanNya. Mohonlah ilmu yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat kita, namun jangan lupa untuk berbagi kepada sesama.

Sebagaimana telah menjadi firman Allah di dalam Al Qur’an:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. yang mengajar (manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. (Q.S. Al Alaq: 1-5).

“Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (Q.S. Az Zumar: 9).

Begitulah, seharusnya manusia berpikir bahwa sebenarnya apa saja yang telah diajarkanNya itu nantinya akan kembali pada logika untuk menemukan hubungan antara ilmu dengan pembuktian akan keberadaan Dzat-Nya. Begitu pula dengan perkembangan teknologi wireless.

Wireless yang selama ini kita ketahui mempunyai konsep definisi sebagai komunikasi yang dilakukan tanpa kabel, melainkan melalui medium udara. Konsep ini memunculkan banyak temuan seperti pembuatan handphone sebagai alternatif pengganti telepon genggam. Juga internet yang menggunakan kabel akhirnya menggunakan fasilitas hotspot atau modem.

Dikaitkan dengan ibadah, salah satu perumpamaan yang bisa kita jadikan sebagai analogi indikator keimanan dan ibadah yakni handphone. Oleh karena itu, sebenarnya komunikasi kita dengan Allah bisa dianalogikan dengan komunikasi wireless menggunakan handphone (Hp). Handphone yang selama ini kita pergunakan menggunakan teknologi komunikasi wireless. Komunikasi dengan Hp bisa dilakukan dimanapun dan kapanpun. Begitu pula komunikasi dengan Allah. Komunikasi kita dengan Allah bisa dilakukan dimanapun dan kapanpun. Bedanya, berkomunikasi menggunakan Hp memerlukan pulsa dan ada tenggang waktu untuk masa aktif kartu. Sedangkan untuk berkomunikasi dengan Allah itu tiada batasannya. Sungguh Allah Maha Pemurah. Dan jika komunikasi hanya terbatas yang kita dengar, maka tidak begitu komunikasi denganNya. Komunikasi denganNya akan jauh lebih menyeluruh, karena segala hal baik yang terlihat maupun yang disembunyikan oleh kita akan diketahui semuanya oleh Allah Yang Maha Mengetahui segala sesuatunya, baik yang diucapkan dengan berbisik, yang ada di dalam pikiran dan hati sekalipun.

Kemudian, menu-menu untuk meminta layanan di Hp banyak tersedia, misalnya untuk mengecek pulsa, mengisi pulsa, kirim sms, telpon, berbicara dengan operator, dsb. Sedangkan menu Allah jauh sempurna. Manusia bisa memilih menu puasa untuk mendapatkan pahala sunnah, menu sholat tahajjud untuk mendapatkan ketentraman hidup, menu sholat hajat untuk memohon suatu permintaan, dsb.

Lalu ada saatnya baterai untuk Hp tersebut menjadi lemah, istilahnya low battery. Jika sudah begitu, maka orang akan kelabakan bergegas untuk mencari charger dan mengisi ulang baterainya. Jika tidak, maka komunikasi dengan orang lain akan kesusahan karena Hp siap mati ketika asupan energy telah habis. Begitu pula dengan ibadah. Apakah selama ini kita pernah merasa takut kehilangan contact denganNya? Low battery seperti apakah yang berkaitan dengan ibadah? Mungkin saja datangnya ke-futur-an, kesibukan dunia yang tak tertahankan dan menggeser kewajiban-kewajiban manusia kepada Rabb-nya. Maka jika hal tersebut terjadi, maka kita tak boleh tinggal diam. Perlu usaha untuk men-charge kembali asupan keimanan. Tidak menunggu hingga iman kita “mati” seperti layaknya Hp yang tidak ter-charge. Cara men-charge misalnya menghadiri kajian-kajian agama, bersilaturahmi ke rumah orang-orang shalih, bersedekah, memperbanyak bacaan Al Qur’an. Meski tak aada niat dan semangat namun harus dipaksakan. Sama seperti analogi makan, jika sudah waktunya makan maka meski tidak ada nafsu makan namun harus tetap makan, jika tidak takut malah menimbulkan maag.

Dan sama ketika kita butuh untuk berkomunikasi namun terhambat dengan sinyal (wireless) yang putus-nyambung putus-nyambung. Tentu saja saat telepon sering terputus, sms kadang pending atau bahkan tak terkirim. Untuk sebagian orang mungkin diaanggap sebagai hal yang menjengkelkan apalagi jika kepentingannya mempunyai tingkat urgensi tinggi.

Lalu bagaimana jika komunikasi kita dengan Allah terputus-putus, sholat lima waktu masih sering bolong padahal notabene sehari hanya butuh waktu 5 kali sehari seperti resep obat, dan di sela-sela waktu sholat yang kosong kita tidak memperbanyak dzikir? Benar-benar terasa seperti raga tanpa jiwa. Menjalani dan mengejar-ngejar rutinitas duniawi namun kewajiban akhirat terlupakan. Sebenarnya Allah tidak membutuhkan sesuatu dari kita karena kita tak akan pernah memberikan manfaat bagiNya. Maksud yang ada disini adalah bahwa padahal sebenarnya ibadah itu adalah kebutuhan kita, Allah tidak butuh ibadah kita. Oleh karena itu, layaknya seseorang yang menelpon “pacar”nya, maka sudah seharusnya komunikasi dengan Allah lebih diperbanyak. Bagaimana mungkin seorang manusia yang diciptakan dengan cintaNya malah menomorduakan cinta kepadaNya.

Maka, jadilah kita sebagai orang yang berilmu dan mampu menafsirkan hakikat firmanNya. Seharusnya setiap tindakan harus atas dasar ibadah padaNya, seperti menuntut ilmu. Ilmu tak akan pernah datang melainkan ada yang menurunkannya. Oleh karena itu, sudah jelas bahwa Al Quran itu diturunkan untuk menjadi petunjuk bagi orang-orang yang berpikir.

(Inilah sepotong ilmu yang saya dapatkan ketika melakukan riset tugas akhir. Seorang narasumber yang budiman menyisipkan tausiyahnya dalam penyampaian beliau, dan hal itu menjadi inspirasi bagi saya untuk menulis artikel ini. Semoga bermanfaat untuk direnungkan oleh kita semua. Amin….).

Profesionalisme Berorganisasi

Organisasi untuk beberapa orang mungkin dianggap sebagai hal yang menyenangkan dan bermanfaat. Namun belum tentu untuk yang lainnya. Mungkin saja organisasi dianggap sebagai suatu boomerang yang siap menyambit kapan saja.

Namun, ketika amanah sudah ada di pundak dan kita sudah bersedia untuk menanggungnya, maka segala konsekuensi harus siap diterima. Bagaimanapun, segala upaya harus ditempuh supaya segala yang kita lakukan nanti bisa dipertanggungjawabkan di hadapan orang lain, dan tentunya pada Sang Maha Kuasa. Maka jangan sampai kita salah membawa diri. Meski satu hal yang kecil, namun jangan sekali-kali dianggap remeh.

Untuk beberapa orang, sangat disayangkan mereka mensia-siakan amanah yang telah dipercayakan kepadanya. Mengerjakan sesuatu malah secara setengah-setengah, menunggu mood bagusnya datang, begitu kata orang.

Jika itu ada dalam konsep organisasi bagi anak seusia sekolah atau mahasiswa, terkadang ada perspektif baik maupun buruknya. Ada yang menganggap bahwa organisasi itu sebagai wadah aktualisasi, dan ada pula yang terpaksa menjalankan.

Berikut ini saya hanya akan mengulas kasus-kasus yang kadang sering terjadi dalam kehidupan organisasi mahasiswa.

Tidak sedikit mahasiswa yang mengeluhkan prestasinya yang merosot karena kesibukan di organisasi. Atau dengan kata lain mengkambinghitamkan organisasi untuk akademik. Padahal tidak semuanya selalu begitu. Tergantung pada cara manajemen waktu saja dan bagaimana cara kita menakar kemampuan kita. Tidak perlu terlalu banyak mengikuti organisasi namun juga bukan berarti tidak mengikuti organisasi sama sekali. Sekali lagi, pengalaman itu harganya mahal. Pengalaman bisa pula didapatkan dalam kehidupan berorganisasi.

Terkadang pula ditemukan beberapa tipe orang yang cuek dalam berorganisasi. Tipe ini lebih mementingkan kepentingan pribadinya dan cenderung merugikan atau bahkan menghambat pekerjaan orang lain. Ketika ada rapat tidak datang, ketika mendapatkan tugas malah dilemparkan kepada orang lain, telat mengumpulkan tugas yang seharusnya dikerjakan atau segala bentuk pembelaan yang menutup-nutupi kemalasan dan ke-tidak-mau-tahuan-nya. Mungkin mereka tidak sadar atau mungkin memang tidak menggubris statement bahwa kehidupan berorganisasi tidak luput dari tuntutan-tuntutan orang yang ingin melihat hasil kinerja organisasi. Dihubungkan dengan hal itu, maka faktor penyebab munculnya sikap lepas tanggung jawab ini misalnya adalah masalah popularitas. Bisa saja dorongan untuk ikut organisasi hanyalah karena mencari popularitas saja. Ingin dipandang keberadaannya namun tidak mau melakukan hal-hal yang dianggap menyusahkan. Begitulah. Sehingga suatu saat jika ia menduduki jabatan sebagai pemimpin atau posisi strategis lainnya, maka ada kemungkinan besar ia tak akan peduli pada kondisi orang-orang yang ada di bawahnya. Yang malah terjadi nanti adalah pimpinan yang sekedar bolak-balik memberi instruksi (perintah) melulu tapi tidak pernah turun langsung. Bagaimana ia bisa mengetahui kondisi lapangan? Mengetahui segala seluk beluk organisasi saja tidak, lalu bagaimana bisa menjadi pemimpin yang berkompeten. Bagaimana bisa menyelami posisi dan kendala bawahan?

Nah, satu hal lagi yang krusial. Pada umumnya pelajar-pelajar (mahasiswa) yang sudah mempunyai pacar akan menomorsatukan pacarnya dan menomorduakan urusan-urusan lainnya. Entah itu dengan wujud membatalkan rapat karena ada janji dengan pacar, tidak melaksanakan tugas organisasi dengan baik karena sudah asyik dengan pacar, dan tindakan-tidakan lainnya. Jika mengurusi yang itu-itu saja, lalu urusan organisasi akhirnya terbengkalai karena pengurus-pengurusnya sibuk dengan urusan pribadi masing-masing. Biasanya tidak ada yang mau mengalah untuk hal yang satu ini. Sungguh menyedihkan.

Begitulah…

Lalu bagaimanakah jika ternyata wujud perilaku buruk dalam organisasi ini diterapkan dalam dunia kerja??? Yah, mungkin saja banyak yang KKN, makan gaji buta, tidak disiplin dalam bekerja, egoistis, dll.

Makanya, mari kita perbaiki niat kita dalam berorganisasi. Jadikan organisasi sebagai salah satu aktivitas yang mampu mengaktualisasikan kreativitas dan bakat, namun tetap profesional. Tidak lupa pula mengatur/manajemen waktu dan memegang amanah.

Tarbiyah itu Dimulai Dari Hal Kecil

Sekedar sharing saja pada pengunjung blog ini….

Sebenarnya perkembangan tren anak muda sudah mensporadis. Mulai dari cara berpakaian, pola pikir, cara bergaul, dan hal lainnya. Tak bisa dipungkiri, kurangnya tarbiyah (pendidikan) tentang agama bisa membawa dampak yang kurang baik, memudahkan untuk terseret pada hal-hal negatuf. Disinilah peran  orang tua, guru, kakak, maupun para murabbi untuk memberikan arahan dan meluruskan. Tarbiyah dengan cara yang halus merupakan jalan yang paling tepat, namun bukan berarti membiarkan mereka (kaum muda) untuk bertindak sesuai kehendak. Bukan pula berarti memberikan kebebasan dan menunggu hingga mereka mendapatkan jati diri (hidayah)nya.

Kita tidak bisa membiarkan seorang sopir pribadi yang belum tahu arah untuk terus menyetir tanpa arahan rute dari kita, sementara kita tidur enak di jok belakang (padahal kita tahu rutenya). Bisa-bisa malah tersesat di tengah jalan. Kalaupun sopir tersebut akhirnya di tengah jalan bertanya tentang rute pada orang-orang di jalan, yakinkah kita bahwa orang yang ditanyai tersebut pasti menunjukkan jalan yang benar? Atau mungkin orang tersebut malah sengaja membuat kita semakin tersesat. Nah, itu lah tugas orang terdekat untuk memberikan tarbiyah yang kiranya memberikan keleluasaan namun tetap mengarahkan. Analoginya, mungkin saja orang tua membekali anak-anaknya dengan kompas, namun tahukah mereka teknik membaca kompas jika tanpa diajari terlebih dahulu oleh orang tuanya? Perlu diketahui, salah beberapa derajat dalam membaca kompas saja bisa membuat salah arah.

Sama halnya seperti jika orang tua mengetahui ilmu tentang kewajiban berjilbab bagi putrinya yang telah dewasa. Namun, ternyata orang tua tidak menyampaikan, memberikan kebebasan kepada putrinya untuk mencari sendiri titik kesadaran akan wajibnya mengenakan jilbab bagi muslimah. Orang tua hanya menunggu datangnya hidayah bagi putrinya dan tidak memberikan pengertian akan pentingnya menutup aurat. “Padahal sudah jelas, hidayah itu tidak akan datang jika kita hanya berpangku tangan. Pencarian hidayah perlu ada usaha, hidayah itu perlu dijemput”. Oleh karena itu, sudah seharusnya orang tua, murabbi atau para pendidik menuntun, mengarahkan atau bahkan menemani perjalanan panjang mereka untuk mencari kebenaran yang hakiki.

Masa sekarang ini adalah masa-masa yang rawan akan pelanggaran nilai-nilai agama. Pergaulan bebas dipercontohkan dimana-mana, baik di TV, majalah, dan media lainnya. Pria maupun wanita berinteraksi tanpa batas. Sebagai orang tua, seharusnya tarbiyah dimulai dari hal kecil. Misalnya dengan memfilter acara TV yang seharusnya dilihat oleh anak, tidak membiarkan anaknya bepergian di malam hari, tidak memperbolehkan putrinya bepergian bersama teman-teman lelaki, melarang putra-putrinya untuk berpacaran, dsb. Namun tidak melulu tarbiyah itu dominan dengan larangan-larangan, bisa pula dengan mengajak putra-putrinya untuk berdialog hati ke hati, mengajak bersilaturahmi ke rumah sanak saudara, mengajak menghadiri acara-acara kajian agama, mewajibkan membaca Al-Qur’an dan terjemahannya setiap hari, menyampaikan pesan bermakna dalam setiap peristiwa, menganjurkan anak untuk mengenakan pakaian yang sesuai syariat, dsb.

Yang paling penting adalah bagaiamana cara membina keterbukaan  dan kedekatan hubungan antara orang tua dengan putra-putrinya. Orang tua sebaiknya membuat suasana kekeluargaan yang kondusif untuk tarbiyah, supaya anak merasa bahwa orang tuanya lah orang yang paling utama sebagai tempat curhat dan berkeluh kesah, dan bahkan supaya anak merasa tidak perlu punya “pacar” karena sudah mendapatkan perhatian yang lebih dari orang tuanya. Tidak bersikap kasar apabila anak melakukan kesalahan, namun tidak pula membiarkan begitu saja tanpa mengingatkan.

Mohon maaf apabila banyak kesalahan dalam artikel ini, semata hanya sedikit berbagi atas apa yang saya rasakan selama ini, yakni menjadi seorang anak yang beruntung karena mendapatkan cinta dan tarbiyah dari ayah dan bunda….

Introduction to Ubiquitous Network

Seiring berjalannya waktu, transformasi teknologi semakin berkembang. Semakin banyak perubahan dan kemudahan dalam setiap kegiatan manusia, hingga saat ini dikenal sebagai era ubiquitous network. Kali ini saya hanya berusaha untuk sedikit memperkenalkan istilah lama namun yang masih dianggap baru ini secara garis besarnya.
Ubiquitous network merupakan istilah untuk jaringan internet yang bisa diakses dimanapun, kapanpun  dan oleh siapapun dengan berbagai device yang berbeda-beda. Ubiquitous network ini memungkinkan bagi kita untuk berkomunikasi dengan multidevice, selain menggunakan komputer juga bisa menggunakan PDA, TV digital, Radio Frequency Identification (RFID) yang terembeed pada suatu objek dan sebagainya. Dengan ubiquitous network maka dimungkinkan setiap orang bisa melakukan kontrol dan perintah terhadap peralatan rumah tangga atau perusahaannya melalui jaringan secara otomatis. Misalnya kita bisa menyalakan lampu rumah via jaringan kantor atau tempat lain yang berbeda tanpa harus berada di rumah, untuk mengisi vending machine jika persediaan softdrink di dalamnya telah habis maka secara otomatis RFID yang tertempel pada vending machine akan mendeteksi hal tersebut dan mengirimkan permintaan pengisian kembali, dan sebagainya.

Di kawasan Asia, Jepang dan Singapore, ubiquitous ini sudah mampu diterapkan sejak lama. Jadi sekarang sudahlah jelas dan tak perlu asing lagi jika mendengar istilah ubiquitous network. Lalu bagaimana dengan pemikiran kita ke depannya jika ubiquitous network sudah bisa diterapkan secara luas? Siapa tahu dengan kemudahan ini semakin banyak timbul permasalahan yang terkait dengan serangan terhadap jaringan dan privasinya. Lalu mari kita pikirkan bagaimana cara pengamanan yang tepat. Mungkin bisa melalui pemanfaatan teknik-teknik kriptografi untuk diterapkan di dalam protokol jaringan, algoritma, device ataupun bagian-bagian lainnya.

Lambang STSN (Bunga Wijayakusuma)

Nah, pastinya rekan-rekan mungkin penasaran. Bagaiman wujud bunga wijayakusuma yang selama ini kita pandang sebagai simbol keilmuan di STSN. Dan bagaimana karakteristik bunga ini. Mari kita lihat sejenak di cuplikan artikel yang saya dapatkan dari Agribozcute’s Blog berikut ini….

BUNGA WIJAYAKUSUMA

wijayakusuma1

Bunga ini hanya mengembang di malam hari mulai sekitar jam 8 malam, dan puncaknya di jam 12 malam, saat mengembang mengeluarkan aroma harum, hampir seperti melati tapi bercampur dengan lili, setelah jam 12 malam, dia layu dan tidak mengembang lagi, ini baru namanya BUNGA MALAM…

Wijayakusuma (Epiphyllum anguliger) termasuk jenis kaktus, divisi anthophita, bangsa opuntiales dan kelas dicotiledoneae. Jenis kaktus terdapat sekitar 1.500 jenis (famili). Tanaman kaktus dapat hidup subur di daerah sedang sampai tropis. Demikian juga tanaman wijayakusuma. Bunga wijayakusuma hanya merekah beberapa saat saja dan tidak semua tanaman wijayakusuma dapat berbunga dengan mudah, tergantung dari iklim, kesuburan tanah dan cara pemeliharaan.

Pada umumnya tanaman jenis kaktus sukar untuk ditentukan morfologinya, tetapi wijayakusuma dapat dilihat dengan jelas mana bagian daun dan mana bagian batangnya, setelah tanaman ini berumur tua. Batang pohon wijayakusuma sebenarnya terbentuk dari helaian daun yang mengeras dan mengecil. Helaian daunnya pipih, berwarna hijau dengan permukaan daun halus tidak berduri, lain halnya dengan kaktus-kaktus pada umumnya. Pada setiap tepian daun wijayakusuma terdapat lekukan-lekukan yang ditumbuhi tunas daun atau bunga Wijayakusuma dapat tumbuh baik ditempat yang tidak terlalu panas.

Kandungan di dalam bunga wijayakusuma ini belum pernah diteliti tetapi telah terbukti dapat mengurangi rasa sakit dan mempercepat pembekuan darah sehingga tanaman ini berkhasiat untuk menyembuhkan luka. Adapun ramuannya, tumbuk satu helai daun wijayakusuma hingga halus. Oleskan pada luka, kemudian balut dengan perban.

Arti Wijayakusuma:

Nama Wijayakusuma banyak dipakai di wilayah Banyumasan dan sekitarnya, selain sudah sangat terkenal sejak dahulu kala, Wijayakusuma merupakan lambang kemenangan atau kejayaan. Panglima Besar Jenderal Soedirman (sebelum masuk militer) memberi nama koperasi yang didirikannya Persatuan Koperasi Indonesia “Wijayakusuma”, Korem 71 Purwokerto memiliki nama Wijayakusuma, di Purwokerto ada Universitas Wijayakusuma, sebuah hotel berbintang di Cilacap juga menggunakan nama Wijayakusuma, kemudian lambang Kabupaten Cilacap juga Wijayakusuma. Selain Bawor dan Kudhi, Wijayakusuma memang menjadi salah satu lambang dari wilayah Banyumasan dan sekitarnya.

  • [ It’s Me, AENI ]

    Meski hanya sebuah blog yang sederhana, namun dengan niat berbagi dan bertukar informasi tentang dunia Islam, Travelling dan Kriptografi, semoga bisa bermanfaat....

  • Blog Stats

    • 163,933 hits